Sabtu, 18 Maret 2017

WAYANG KULIT
Makalah ini disusun guna menyelesaikaan tugas Matakuliah Etika Budaya Jawa Dosen  pengampu: Ertris Bergas T, M.Pd.
 









Di susun oleh: Kelompok 4
1.      Nanik Tasdiqoh                          (23010-15-0291)
2.      Siti Rahmaniah                           (23010-15-0142)
3.      Muhammad Nasih Faza             (23010-15-0033)
4.      Nasaluk Ghufron                       (23010-15-0356)
5.      Muhammad Hadi Santoso         (23010-15-0107)
6.      Prayoga Septianto                      (23010-15-0217)

FAKULTAS  TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
 PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
INSTUTUT AGAMA ISLAM NEGERI SALATIGA

2016

BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Wayang adalah boneka tiruan yang terbuat dari kulit atau kayu dsb,  yang dapat dimanfaatkan untuk memerankan tokoh dalam pertunjukan drama tradisional (Bali, Jawa, Sunda, dsb), biasanya dimainkan oleh seseorang yang disebut dalang. Namun ada juga yang mengartikan bahwa perkataan wayang berasal dari bahasa Jawa, yang artinya perwajahan yang mengandung penerangan. Seni Wayang, merupakan salah satu bentuk teater tradisional yang paling tua di Indonesia. pada masa pemerintahan Raja Balitung pertunjukan wayang telah ada, hal tersebut ditemukan pada prasasti Balitung tahun 907 M. Sejarah perkembangan seni wayang di Indonesia, yaitu pada abad ke-4 orang-orang Hindu datang ke Indonesia, melalui jalur perdagangan. Pada kesempatan tersebut orang-orang Hindu membawa ajarannya dengan Kitab Weda dan epos cerita Mahabarata dan Ramayana dalam bahasa Sanskrit. Kemudian Abad ke-9 bermunculan cerita-cerita dengan bahasa Jawa kumo dalam benuk kakawin yang bersumber dari cerita Mahabarata atau Ramayana, yang telah diadaptasi. Berhubungan dengan itu, makalah ini akan memaparkan studi pustaka yang telah kami lakukan. Adapun hal yang melatarbelakangi studi pustaka dan analisis Seni Wayang ini adalah sebagai wujud apresiasi kami sebagai penikmat seni terhadap budaya tradisional, yang kian hari semakin tersisih oleh budaya asing. Oleh karena itu kami akan mengkaji tentang wayang kulit yaitu meliputi pengertin wayang kulit itu sendiri, kemudian bagaimana perkembangan wayang kulit, bagaimana pakem pagelaran wayang kulit, dan apa saja jenis-jenis wayang kulit. Semoga dengan penyusunan makalah ini, kita menyadari keindahan dan keagungan budaya tradisional yang harus kita lestarikan, kita jaga dan kita banggakan sebagai kekayaan budaya bangsa.

BAB II
PEMBAHASAN
A.      Pengertian Wayang Kulit
Pengertian wayang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah: “Boneka tiruan  yang dibuat dari kulit yang diukir, kayu yang dipahat, dan sebagainya yang dapat dimanfaatkan untuk memerankan tokoh dipertunjukan drama tradisional yang dimainkan oleh seorang dalang”. (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 2002:1010)
Pengertian wayang adalah walulang inukir (kulit yang diukir) dan dilihat byangannya pada kelir. Dengan demikian, wayang yang dimaksud tentunya adalah Wayang Kulit seperti yang kita kenal sekarang. Tapi akhirnya makna kata ini meluas menjadi segala bentuk pertunjukkan yang menggunakan dalang sebagai penuturnya disebut wayang. Oleh karena itu terdapat wayang golek, wayang beber, dan lain-lain. Pengecualian terhadap wayang orang yang tiap boneka wayang tersebut diperankan oleh aktor da aktris sehingga menyerupai pertunjukan drama. (Mulyono, 2006:154)
Sedangkan untuk pengertian Wayang Kulit itu sendiri yaitu, seni tradisional Indonesia, yang terutama berkembang di pulau Jawa dan di sebelah timur semenanjung Malaysia seperti di Kelantan dan Terengganu. Wayang Kulit dimainkan oleh seorang dalang yang juga menjadi narator dialog tokoh-tokoh wayang, dengan diiringi oleh musik gamelan yang dimainkan sekelompok nayaga dan tembang yang dinyanyikan oleh para pesinden. Dalam memainkan wayang kulit dibalik kelir, yaitu layar yang terbuat dari kain putih, sementara di belakangnya disorotkan lampu listrik atau lampu minyak (blencong), sehingga para penonton yang berada di sisi lain dan layar dapat melihat bayangan wayang yang jatuh ke kelir. Untuk dapat memahami cerita wayang (lakon), penonton harus memiliki pengetahuan akan tokoh-tokoh wayang yang bayangannya tampil di layar. (Mulyono, 2006:156)
Dan di dalam wayang kulit terdapat tokoh sebagai peran utama dalam cerita pakem jawa diantaranya adalah:
Puntadewa, sebagai raja (Syahadat bagaikan rajanya, rajanya rukun Islam) dan saudara-saudaranya merupakan symbol rukun Islam. Puntadewa memiliki sifat “berbudi bawa leksana, berbudi luhur dan penuh kewibawaan. Seorang raja yang arif dan bijaksana, adil dalam ucapan dan perbuatan (al-adlu), sebagai pengejawantahan dari kalimat syahadat yang selamanya mengilhami kearifan dan keadilan. Puntadewa memimpin ke-4 adiknya atau biasa dikatakan keempat saudaranya dalam suka duka dan penuh kasih sayang. Demikian pula dalam rukun Islam yang kedua, ketiga, keempat, dan kelima namun tidak menjalankan rukun Islam yang pertama maka seluruh amalnya akan sia-sia. Terlebih orang yang akan menyebutmu sebagai orang yang munafik (hiprokrit). Prabu Puntadewa tidak pernah mati selama ia memiliki azimat “Kalimosodo” (kalimat syahadat atau syahadatain), senantiasa unggul dalam setiap perjuangan dan selalu ikhlas dan menyayangi rakyatnya. (Dewabrata, 2011:145)
Tokoh Bima atau Werkudara, dia dipersonifikasikan sebagai rukun Islam yang kedua yaitu Shalat lima waktu. Dalam kisah pewayangan, Bima terkenal sebagai penegak Pandawa. Ia hanya bisa berdiri saja, karena memang tidak bisa duduk, konon menurut cerita pewayangan “tidurpun Bima dengan berdiri”. Seperti halnya hadis Nabi Muhammad SAW yang artinya:
 “Sholat adalah tiang agama, barang siapa yang menjalankannya maka ia menegakkan Islam dan barang siapa yang meninggalkannya maka ia merobohkan Islam”. (Dewabrata, 2011:146)
Dalam kehidupannya sehari-hari Bima selalu menggunakan “ Bahasa Ngoko” atau Bahasa Jawa kasar baik itu kepada dewa, pendeta, kyai, dan lain sebagainya. Lmbang rukun Islam yang kedua shalat lima waktu, maka sholat berlaku terhadap siapapun, kapanpun dan dimanapun. (Dewabrata, 2011:45)
Arjuna atau Janoko, dia di personifikasikan sebagai rukun islam yang ketiga, yaitu Zakat dalam cerita pewayangan dia disebut sebagai “lelanganing jagad” (lelaki pilihan). Nama Arjuna berasal dari kata “Jun” yang artinya Jambangan. Benda ini merupakan symbol jiwa yang bersih. Banyak wanita yang “nandhang gandrung kapirangu lan kapilayu” (tergila-gila) kepadanya. Arjuna memiliki sifat yang sangat lemah lembut, terlebih terhadap kaum wanita, dia sangat tidak bisa mengatakan “tidak” (seperti orang Jawa pada   umumnya diluar mengatakan tidak padahal batinnya meng iyakan). Dengan kehalusan dan kelembutan Arjuna maka ia terlihat lemah dan tidak berdaya, namun sebenarnya dibalik kehalusannya terdapat kekuatan yang sangat luar biasa. Terbukti Arjuna selalu unggul dalam setiap pertempuran. Maka demikianlah zaat sebagai rukun Islam yang ketiga kewajiban bagi setiap muslim disini juga mengandung arti agar setiap muslim dimanapun berada agar berjuang untuk mendapatkan rizqi dan kekayaan. Setiap orang pasti menginginkan “mas peci raja bejana” (harta kekayaan dan lain-lain). Maka agar harta itu berfugsi sosial dan pembersih maka harus di zakati agar suci dan bersih lahir batinnya. (Dewabrata, 2011:25)
Nakula dan Sadewa, dia dipersonifikasikan sebagai rukun Islam yang keempat dan kelima yaitu Puasa di bulan Ramadhan dan Haji. Kedua tokoh ini hanya bertemu pada saat-saat tertentu saja. Demikian juga dengan puasa ramadhan dan haji tidak setiap hari dikerjakan. Hanya dikerjakan dalam waktu ertentu saja misalnya, puasa setahun sekali pada bulan Ramadhan, dan haji juga setahun sekali pada bulan dzulhijah di Mekkah al-Mukaromah. Pandawa bukanlah Pandawa tanpa si kembar nakula sadewa, meskipun mereka ini lahir dari ibu ynag lain, Dewi Madrim yang ikut “labuh geni” (menceburkan diri kedalam api bila suaminya meninggal menurut tradisi Hindu) dengan suaminya Pandu Dewanata. Memang dengan demikian Puasa Ramadhan dan Haji lahir pada bulan-bulan tertentu (ramadhan dan dzulhijah). (Dewabrata, 2011:97)
B.       Sejarah Perkembangan Wayang Kulit 
Wayang adalah salah satu puncak seni budaya bangsa Indonesia khususnya di pulau Jawa yang paling menonjol di antara banyak karya budaya lainnya. Budaya wayang meliputi seni peran, seni suara, seni musik, seni tutur, seni sastra, seni lukis, seni pahat, dan juga seni perlambang. Budaya Wayang yang terus berkembang dari zaman ke zaman juga merupakan media penerangan dakwah, pendidikan, hiburan, pemahaman filsafat, serta hiburan. (Mulyono, 2006: 239)
Menurut penelitian para ahli sejarah kebudayaan, budaya wayang merupakan budaya asli Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Walaupun cerita wayang yang populer di masyarakat masa kini merupakan adaptasi dari karya sastra India, yaitu Ramayana dari Mahabarata. Kedua induk cerita itu dalam pewayangan banyak mengalami perubahan dan penambahan untuk menyesuaikan dengan falsafah asli Indonesia. (Mulyono, 2006: 240)
Penyesuaian konsep filsafat ini juga menyangkut pada pandangan filosofis masyarakat Jawa terhadap kedudukan para dewa dalam pewayangan. Para dewa dalam pewayangan bukan lagi merupakan satu yang bebas dari salah, melainkan seperti jiga makhluk Tuhan lainnya, kadang-kadang bertindak keliru, dan bisa jadi khilaf. Hadirnya tokoh punakawan dalam pewayangan sengaja diciptakan para budayawan Indonesia (tepatnya budayawan Jawa) untuk memperkuat konsep filsafat bahwa di dunia ini tidak ada makhluk yang benar-benar baik, dan yang benar-benar baik, dan yang benar-benar jahat. Setiap makhluk selalu menyandang unsur kebaikan dan kejahatan.  (Mulyono, 2006: 241)
Ada dua pendapat mengenai asal-usul wayang. Pertama, pendapat bahwa wayang berasal dan lahir pertama kali di Pulau Jawa, tepatnya di Jawa Timur. Pendapat ini selain dianut dan dikemukakan oleh para peneliti dan ahli-ahli bangsa Indonesia, juga merupakan hasil penelitian sarjana-sarjana Barat. Di antara para sarjana Barat yang termasuk kelompok ini, adalah Hazeau, Brandes, Kats, Rentse dan Kruyt. (Mulyono, 2006: 242)
Alasan mereka cukup kuat. Di antaranya, bahwa seni wayang yang masih amat erat kaitannya dengan keadaan sosiokultural dan religi bangsa Indonesia, khususnya orang Jawa. Punakawan, tokoh terpenting dalam pewayangan yakni Semar, Gareng. Petruk, Bagong, hanya ada dalam pewayangan Indonesia, dan tidak di negara lain. Selain itu, nama dan istilah teknis pewayangan, semuanya berasal dari bahasa Jawa (Kuna), dan bukan bahasa lain. (Mulyono, 2006: 243)
Sementara itu, pendapat kedua menduga wayang berasal dari India, yang dibawa bersama dengan agama Hindhu ke Indonesia. mereka antara lain adalah Pischel, Hidding, Krom, Poensen, Goslings, dan Rassers. Sebagian besar kelompok kedua ini adalah sarjana Inggris, negeri Eropa yang pernah menjajah India.
Namun, sejak tahun 1950-an, buku-buku peayangan seolah sudah sepakat bahwa wayang memang berasal dari Pulau Jawa dan sama sekali tidak diimpor dari negara lain. Budaya wayang diperkirakan sudah lahir di Indonesia setidaknya pada zaman pemerintahan Prabu Airlangga, raja Kahuripan (976-1012), yakni ketika kerajaan di Jawa Timur itu sedang makmur-makmurnya. Karya sastra yang menjadi bahan cerita wayang sudah ditulis oleh para pujangga Indonesia, sejak abad X. Antara lain, naskah Kitab Ramayana Kakawin berbahasa Jawa Kuna ditulis pada masa pemerintahan raja Dyah Balitung (989-910), yang merupkan gubahan dari Kitab Ramayana karangan pujangga India, Walmiki. (Mulyono, 2006: 244)
Selanjutnya,para pujangga Jawa tidak lagi hanya menerjemahkan Ramayana dan Mahabarata ke bahasa Jawa Kuna, tetapi menggubahnya dan menceritakan kembali dengan memasukkan falsafah Jawa kedalamnya Contohnya, karya Empu Kanwa Arjunawiwaha Kakawin, yang merupakan gubahan yang berinduk pada Kitab Mahabarata. Gubahan lain yang lebih nyata bedanya dengan cerita asli versi Indi, adalah Baratayuda Kakawin karya Empu Sedah dan Empu Panuluh. Karya agung ini dikerjakan pada masa pemerintahan Peabu Jayabaya, raja Kediri (1130-1160).
Wayang sebagai suatu pergelaran dan tontonan pun sudah dimulai pada sejak zaman pemerintahan raja Airlangga. Beberapa prasasti yang dibuat pada masa itu antara lain sudah menyebutkan kata-kata”mawayang” dan “aringgit” yang maksudnya adalah pertunjukan wayang. (Mulyono, 2006: 245)
Ya, jadi disini ada 2 pendapat mengenai asal usul wayang, yang pertama   Menurut penelitian para ahli sejarah kebudayaan, budaya wayang merupakan budaya asli Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Walaupun cerita wayang yang populer di masyarakat masa kini merupakan adaptasi dari karya sastra India, yaitu Ramayana dari Mahabarata. Kedua induk cerita itu dalam pewayangan banyak mengalami perubahan dan penambahan untuk menyesuaikan dengan falsafah asli Indonesia. Sementara itu, pendapat kedua menduga wayang berasal dari India, yang dibawa bersama dengan agama Hindhu ke Indonesia. mereka antara lain adalah Pischel, Hidding, Krom, Poensen, Goslings, dan Rassers. Sebagian besar kelompok kedua ini adalah sarjana Inggris, negeri Eropa yang pernah menjajah India.
C.      Pakem Pagelaran Wayang Kulit sebagai Perjalanan Hidup Manusia
Penyelenggaraan wayang kulit semalam suntuk telah digambarkan dalam serat weda purwaka dan pupuh dhandanggula. Di dalam pupuh dhandanggula dapat disimpulkan bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan pertunjukan wayang kulit mempunyai simbol-simbol sendiri antara lain sebagai berikut:
a.       Orang yang mempunyai hajat wayangan (yang menganggap wayang) diumpamakan seperti yang Maha Widi.
b.      Dhalang menggambarkan Tri Murti, yang dimaksud Tri Murti dalam agama Hindhu yaitu Brahma, Wisnu dan Rudra Brahma, Brahma sebagai pencipta, wisnu sebagai pemelihara dan Rudra sebagai perusak. Namun dalam hal ini dikaitkan dengan sifat tuhan sebagai pencipta, pemelihara dan sebagai pemberi adzab.
c.       Wayang yang dimainkan menggambarkan makhluk.
d.      Blencong menggambarkan matahari.
e.       Kelir atau layar menggambarkan angkasa (langit).
f.       Debog atau batang pisang menggambarkan bantalan (bumi tanah).
g.      Gamelan menggambarkan keutuhan manusia hidup didunia. (Padmosoekotjo, 2005: 16)
Sedangkan hal-hal lain yang berhubungan dengan pagelaran wayang kulit  sebagai gambaran manusia adalah:
a.       Orang yang mempunyai hajat wayangan diibaratkan sebagai Hyang Atma (jiwa manusia).
b.      Dalang sebagai pencipta dan karsa manusia.
c.       Wayang simbol dari pada nafsu manusia yang terdapat  pada panca indera.
d.      Kelir atau layar menggmbarkan angan-angan manusia.
e.       Debog atau batang pisang melambangkan jasmani atau raga manusia.
f.       Blencong atau lampu, melambangkan pramana (denyut jantung yang menjadi tanda kehidupan.
g.      Gamelan melambangkan kebutuhan hidup manusia.
h.      Kotak tempat menyimpan wayang menggambarkan sangkan paran (asal mula dan tujuan), yaitu asal mula manusia sebelum hidup dan tempat manusia setelah mati.
i.        Gunungan atau kayon melambangkan kehidupan (dari kata Khayyun, khayyun yang berarti hidup).
j.        Cempala atau alat untuk melukiskan jantung manusia, karena bentuk dari cempala hampir mirip sepert jantung.
k.      Kepyak menggambarkan peredaran darah pada urat nadi.  (Padmosoekotjo, 2005: 18)
Sedangkan urut-urutan jalan cerita pagelaran wayang kulit yaitu:
1.      Jejer pathet enem (bisa diartikan:Adegan dengan dasar 6) atau jejer pathet Lasem, adegan Sang Prabu di ruang persidangan (perepatan agung) bersama patih, penasehat atau tetua kraton membahas sesuatu hal. Adegan ini menggambarkan apa yang terpikirkan. Dari awal inilah asal mula semua yang akan terjadi digambarkan, diungkapkan.
2.      Kadhatonan atau Gupitmandragini, adegan di dalam keraton, (Gupitmandragini: ruang untuk wanita utama), pertemuan antara Sang Prabu dengan Prameswari (lelaki dan wanita), yang menggambarkan menyatunya pikir dan rasa menjadi karsa (niat), yaitu keinginan (niat) untuk memiliki keturunan (anak).
3.      Paseban Jaba (tempat menghadap seba di sebelah luar dari balairung), patih menyampaikan apa yang menjadi inti persidangan kepada mantri dan putra raja, lalu memberikan perintah untuk menyiapkan wadyabala (pasukan). Adegan ini menggambarkan kelahiran si jabang bayi.
4.      Bodholan (budhaling wadyabala), Pemberangkatan (berangkatnya pasukan) berangkatnya pasukan dari kerajaan (angka 1), ditandai dengan suluk “Ada-ada Hastakuwala” dan “Ada-ada Budhalan Mataraman”. Adegan ini menggambarkan pola sang jabang bayi yang mulai bertambah usia.
5.      Jejer sabrangan, adegan di kerajaan seberang (kerajaan lain). Sang Prabu yang juga membahas sesuatu hal dengan patih atau penasehatnya. Adegan ini menggambarkan si jabang bayi sudah menjadi anak-anak (bocah), dan mulai mempunyai keinginan-keinginan.
6.      Perang gagal, ada dua macam perang yang terjadi pada pathet enem yaitu: (1) perang ampyak: digambarkan dengan pasukan kerajaan (rampogan) yang memperbaiki jalan, dan dimainkan setelah adegan bodholan (budhaling wadyabala), (2) perang simpangan: digambarkan pasukan kerajaan (angka 1) bertemu dengan pasukan kerajaan seberang dan terjadi perselisihan, namun memilih menghindari terjadinya pertempuran dengan menyimpang. Dimainkan setelah jejeran kerajaan seberang. Di Pathet enem ini hanya ada satu perang dan belum ada paraga (toko wayang) yang mati. Adegan ini menggambarkan anak (bocah) yang belum dewasa, sehingga belum bisa mengendalikan hawa nafsunya. Pathet enem berakhir dan memasuki pathet sanga (babak ke dua).
7.      Pathet sanga dibuka dengan adegan gara-gara. Dunia dalam keadaan seakan menghadapi kiamat oleh berbagai bencana alam. Manusia hanya mampu berlarian kesana kemari mencari perlindungan. Para pandhita tak mampu mengucap mantra, tak kuasa bersemedi. Sang Raja tak berdaya, hanya bisa berharap pertolongan dewa. Namun dewa juga bersedih, karena bencana juga melanda Suralaya. Di tengah gara-gara tiba-tiba muncullah 2 bocah bajang (orang kredil) yang membawa tempurung berlubang 3 (batok bolu atau bolong telu) hendak menguras samudra dan mengeringkannya. Seorang yang lain membawa sebatang lidi (sedalanang) hendak menggiring angin menyapu jagad. Keduanya berebut kebenaran yang menambah dahsyatnya bencana. Namun kehendak Sang Pencipta, gara-gara perlahan mereda dengan munculnya seberkas sinar memancarkan cahaya bak purnama. Seiring sinarnya sinar tu muncul muncullah dewa berwujud manusia. Berdiri seakan tugu batu, duduk laksana gumuk (bukit). Itulah Sang Hyang Ismaya atau Ki Lurah Semar.
8.      Jejer Pandhita, bambang (satrya muda) menghadap pandhita dan menerima petuah. Adegan yang menggambarkan anak (bocah) yang mulai dewasa (pemuda), pikiran dan hatinya mulai terbuka dan mulai mencari pengetahuan (ngangsu kawruh), menimba ilmu, untuk bekal menjalani kehidupan.
9.      Jejer Madyaning alas, adegan ini di tengah hutan. Bambang (satrya muda) dengan diiringi punakawan (Semar,Gareng, Petruk dan Bagong), bertemu dengan 3 danawa (raksasa). Terjadi pertengkaran dan perkelahian yang dimenangkan oleh sang bambang dengan berhasil membunuh ke 3 danawa tersebut. 3 danawa adalah gambaran dari watak angkara murka (hawa nafsu) yang berhasil ditundukkan oleh satrya muda setelah ngangsu kawruh nggilut ilmu. Selanjutnya memasuki babak ke tiga, pathet manyura.
10.  Adegan warna-warni. Yang menggambarkan bahwa dalam menempuh perjalanan hidup, manusia akan mengalami kejadian beraneka macam, berbgai rasa, senang, susah, mujur, sial, untung, malang, menang, kalah dsb. Dari setiap kejadian itulah menusia memetik ikmah dan menempa pribadinya.
11.  Perang bubruh, secara harfiah bermakna perang dengan emosi yang meluap (amuk-amukan). Disebut juga ayaj-ayakan dan diiringi dengangendhing sampak. Raja dari seberang dan pasukannya menyerang ke kerajaan pada jejer kawitan (adegan pertama) dan terjadilah perang amuk-amukan (bubruh). Raja seberang dan pasukannya kalah. Bila Raja seberang adalah dewa atau satrya yang bersalin wujud (mancala warna), maka kembalilah pada wujud yang sebenarnya. Bila perang tubuh ini terjadi pada jaman Prabu Rama (Ramayana), maka yang merampungi (menyelesaikan) selalu adalah Hanuman. Bila perang bubruh ini terjadi pada jaman Pandawa (Bharatayudha), maka yang merampungi (menyelesaikan) selalu adalah Bima (Werkudara). Hanuman dan Bima disebut Bayu Suta, anak Sang Hyang Bayu, yang dimaksudkan adalah “angin kecil” yaitu nafas (ambegan). Adegan perang bubruh adalah perlambang bahwa pada akhirnya nafas jualah yang mengakhiri perjalanan hidup manusia.
12.   Berkumpulnya Raja, putra raja dalam suasana yang menyenangkan, adalah gambaran manusia yang meninggal dunia dengan tenang, karena telah menjalankan kewajibannya sebagai “titah” dengan sebaik-baiknya.  (Padmosoekotjo, 2005:50)
Jejer kawitan (adegan permulaan) dan jejer sabrangan (adegan sebrangan), tidak selalu menggambarkan adegan di sebuah kerajaan. Dalam lakon “Wahyu Tojali” jejer kawitan adalah keadaan di Kahyangan (Suralaya). Setelah cerita pagelaran wayang kulit selesai, sebelun tancep kayon, dhalang mengeluarkan wayang golek (wayang yang terbuat dari kayu, dari Jawa Barat), dan menarikan wayang golek tersebut. Hal ini bermakna sasmita dari dhalang: “Golekana Surasane”, carilah maknanya. Pertunjukan wayang, pada hakikatnya, adalah simbolisasi perjalanan hidup manusia, dari lahir hingga mati.
Ya, jadi segala sesuatu yang ada pada pakem pagelaran wayang, itu semua mengandung simbol-simbol dan filosofi tersendiri, tidak semata-mata hanya pertunjukkan belaka, simbol-simbol tersebut mempunyai makna tersendiri yang ternyata sangat luar biasa, mulai dari segala sesuatu atau alat yang digunakan untuk pakem pagelaran wayang kulit, ataupun dari hal-hal lain yang berhubungan dengan pagelaran wayang kulit sebagai gambaran manusia, dan sampai urut-urutan atau step by step nya jalan cerita pagelaran wayang kulit semua mempunyai arti dan makna tersendiri, yang ternyata filosofinya sangat luar biasa jika kita mengetahuinya.
D.      Dalang Sebagai Juru Dakwah
Dalam dunia pewayangan dalang merupakan unsur terpenting pada sebuah pementasan, terlepas dari apa pun tema yang akan dipentaskan. Berkaitan dengan kegiatan dakwah Islamiah ataupun yang lainya, seorang dalang pun dapat di kategorikan sebagai juru dakwah atau seorang Da’i melalui  profesinya tersebut. Hal ini memungkinkan karena dalam setiap pementasan sebuah pagelaran wayang seorang dalang sangat mungkin menyampaikan pesan-pesan agamis dalam setiap lakon yqang dipentaskan. Dahulu pada saat awal-awalnya perkembangan Islam di Nusantara, para penyebar Islam khususnya Walisongo yaitu Sunan Kalijaga juga telah menggunakan media wayang untuk mendukung kegiatan dakwahnya, dan ternyata berhasil. Faktor-faktor yang memungkinkan seorang dalang menjadi seorang juru dakwah diantaranya:
a.       Karakter dalang yang faham betul isi cerita lakon pewayangan yang umumnya mengandung tema kehidupan sosial. Apapun temanya, baik tentang kerajaan, mahabarata, cerita hindu dan sebagainya, namun semua itu bisa dimasuki pesan-pesan bernilai Islami tanpa harus merubah inti dan isi cerita secara keseluruhan atau sebagian dengan kecerdasan dan wawasan yang dimiliki, profesi seorang dalang dapat dengan mudah untuk melakukannya.
b.      Wayang merupakan kesenian tradisional yang masih banyak digemari, dan biasanya dalang sangat dikagumi oleh para penggemarnya. Situasi ini dapat digunakan seorang dalang untuk mrnyampaikan pesan-pesan bernilai Islami pada setiap pementasannya tentunya di selingi oleh humor-humor yang mendidik yang dapat mempengaruhi pada audiennya.
c.       Tema wayang megikuti zaman sehingga dalang tidak akan ditinggalkan ole penggemarnya, sehingga ia akan terus berdakwah. (Ali, 2010:98)
Meski seorang dhalang sudah terlihat memiliki kepandaian dalam berbagai seni, pengetahuan Jawa, namun ada sebutan (pilihan) tersendiri, yang menunjukkan kelebihan seorang dhalang, yaitu:
1)      Dalang Sejati, yaitu Dhalang yang ketika mementaskan sebuah lakon cerita wayang berisi ajaran ilmu kebatinan (kawruh kebhatinan), sangka paraning dumadi (asal dan tujuan makhluk hidup manusia), memberi “terang” (tinarbuka) pada penonton yang hatinya masih gelap dan wejangan-wejangan tentang hidup menuju kesempurnaan. Agar antara lahir dan batin selaras (jumbuh).
2)      Dhalang Purba, yaitu Dhalang yang memainkan wayang dengan lakon cerita yang beraneka macam, namun juga memberi wejangan secara halus dan mampu meresap ke sanubari penonton tentang berbagai hal yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, sehingga secara perlahan menuntun lahir dan batin menuju kesemprnaan. Dhalang Purba adalah seorang yang sudah mampu merasakan rasa halus dan kasarnya manusia.
3)      Dhalang Wasesa, yaitu Dhalang yang mahir (mempunyai penjiwaan yang kuat)  memainkan tokoh dan cerita wayang . sehingga, karena pandainya menceritakan, menggunakan kata-kata, memainkan wayang, cerita (lakon) tersebut seakan hidup perasaan dan pikiran penonton terbawa. Ikut sedih ketika tokoh wayang susah, tertawa ketika suasana gembira dan sebagainya.
4)      Dhalang Guna, yaitu Dhalang yang  kemampuannya menguasai pakeliran hanya pada cerita yang menyenangkan penonton, namun cerita (lakon) yang dibawakan tanpa “isi” hanya sekedar ramai. Memainkan wayang secara lugu, juga pengusasaannya dalam hal gendhing. Ibarat “Dhalang kurang lakon”.
5)      Dhalang Wikalpa, yaitu Dhalang yang cara membawakan cerita, memainkan wayang pengetahuan tentang seni pagelaran wayang, semua seperti ketika belajar di sekolah Padhalangan. Jadi lebih seperti meniru saja, tidak mempunyai kemampuan untuk mengembangkan diri. (Ali, 2010:100)
E.       Jenis-Jenis Wayang Kulit
1.Wayang Purwa
     Kata purwa dipakai unutk membedakan wayang jenis ini dengan wayang kulit lainnya. Wayang purwa atau wayang kulit purwa berarti asal (pertama). Wayang purwa diperkirakan mempunyai unsur yang paling tua diantara wayang kulit lainnya. Wayang kulit purwa terbuat dari bahan kulit yang ditatah, diberi warna sesuai dengan kaidah pulasa wayang pedalangan, diberi tangkai dari bahan tanduk kerbau bule, yang diolah sedemikian rupa dengan nama cempurit, yang terdiri dari tuding dan gapit. (Ali, 2010: 19)
2. Wayang Parwa
     Wayang Parwaa adalah wayang kulit yang paling populer dan terdapat di seluruh Bali. Wayang Parwa meruakan wayang kulit yang membawakan lakon-lakon yang bersumber dari cerita Mahabarata yang juga dikenal sebagai Astha Dasa Parwa. Wayang ini dipentaskan dalam kaitannya dengan berbagai jeis upacara adat dan agama, walaupun pertunjukannya sendiri bersifat modern. (Ali, 2010: 20)
3. Wayang Kulit Betawi
     Dipastikan bahwa tradisi bentuk pertunjukan wayang kulit betawi memang berasal dari Jawa. Ada ahli yag menyatakan bahwa wayang kulit masuk ke Betawi pada zaman penyerbuan ultan Agung Hantjokorokusumo ke Mataram tahun 1682-1629. Walaupun kemungkinan besar wayang kulit betawi berasal dari Mataram, tetapi perkembangannya kemudian dalam kurun waktu puluhan tahun secara eksistensial sama sekali tidak adanya keterkaitan dengan daerah asal tradisi bentuk kesenian tersebut. Bahkan juga tidak terpengaruh tradisi bentuk pertunjukan wayang golek Sunda di Jawa Barat yang secara factural memang banyak kesamaannya. (Munandar, 1994: 107)
4. Wayang Madya
     Adalah wayang kulit yang diciptakan oleh Mangkunegara IV sebagai penyambung cerita wayang purwa dengan wayang gedhog. Cerita wayang madya merupakan peralihan cerita purwa ke cerita panji. Salah satu cerita wayang madya yang terkenal adalah cerita Anglingdarma. Wayang madya tidak sempat berkembang diluar lingkungan Pura Mangkunegaran. (Munandar, 1994: 108)
5. Wayang Gedog
     Wayang Gedog atau wayang panji atau wayang yang memakai cerita dari serat panji. Wayang ini mungkin telah ada sejak zaman majapahit, wayang gedog yang kita kenal sekarang konon diciptakan oleh Sunan Giri pada tahun 1485 pada saat mewakili Raja Demak yang sedang melakukan penyerbuan ke Jawa Timur, sebutan wayang gedog berasal dari pertunjukan wayang gedog yang mula-mula tanpa iringan kecrek (besi), sehingga bunyi suara keprek, dog, sangat dominan. (Munandar, 1994: 108)
6. Wayang Calonarang
     Wayang calonarang juga sering disebut sebagai wayang leyak, adalah salah satu jenis wayang kulit Bali yang dianggap angker karena dalam pertunjukannya banyak mengungkapkan nilai-nilai magis dan rahasia pangiwa dan panengen. Wayang ini pada dasarnya adalah pertunjukan wayang yang mengkhususkan lakon-lakon dari cerita calonarang. Kekhasan pertujukan wayang calonarang ini terletak pada tarian sisi-nya, yaitu dengan teknik permainan ngalinting dan adegan ngundang-ngundang, dimana sang dalang membeberkan atau menyebut nama-nama mereka yang mempraktekkan pangiwa. (Munandar, 1994: 108-109)
7. Wayang Krucil
     Wayang krucil pertama kali di ciptakan oleh pangeran Pekik dari Surabaya, Wayang ini terbuat dari bahan kulit berukuran kecil sehingga lebih sering disebut dengan wayang Krucil. Dalam perkembangannya, wayang ini menggunakan bahan kayu pipih (dua dimensi) yang kemudian dikenal sebagai wayang klithik.
            Di daerah Jawa Tengah, wayang krucil memiliki bentuk yang mirip dengan wayang gedog. Tokoh-tokohnya memakai dodot rapekan, berkeris dan menggunakan tutup kepala tekes (kipas. Sedangkan di Jawa Timur, Tokoh-tokohnya banyak yang menyerupai wayang kulit purwa, raja-rajanya bermahkota dan memakai praba, di Jawa Tengan tokoh-tokoh rajanya bergelung keling atau garuda mungkur saja. Ada dua pendapat mengenai asal-usul wayang. Pertama, pendapat bahwa wayang berasal dan lahir pertama kali di Pulau Jawa, tepatnya di Jawa Timur. Pendapat ini selain dianut dan dikemukakan oleh para peneliti dan ahli-ahli bangsa Indonesia, juga merupakan hasil penelitian sarjana-sarjana Barat. Di antara para sarjana Barat yang termasuk kelompok ini, adalah Hazeau, Brandes, Kats, Rentse dan Kruyt. (Munandar, 1994: 109)
Jadi, wayang kulit mempunyai beberapa macam jenis yang masing-masing jenisnya mempunyai keunikan dan ciri khas tersendiri, yang dapat membedakan antara wayang kulit yang satu dengan yang lain. Demikian pembahasan mengenai jenis-jenis wayang kulit ini sekaligus mengakhiri pembahasan pada makalah ini.

    

























BAB III
KESIMPULAN
     Wayang Kulit  yaitu, seni tradisional Indonesia, yang terutama berkembang di pulau Jawa dan di sebelah timur semenanjung Malaysia seperti di Kelantan dan Terengganu. Wayang Kulit dimainkan oleh seorang dalang yang juga menjadi narator dialog tokoh-tokoh wayang, dengan diiringi oleh musik gamelan yang dimainkan sekelompok nayaga dan tembang yang dinyanyikan oleh para pesinden.
Menurut penelitian para ahli sejarah kebudayaan, budaya wayang merupakan budaya asli Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Walaupun cerita wayang yang populer di masyarakat masa kini merupakan adaptasi dari karya sastra India, yaitu Ramayana dari Mahabarata. Kedua induk cerita itu dalam pewayangan banyak mengalami perubahan dan penambahan untuk menyesuaikan dengan falsafah asli Indonesia. Sementara itu, pendapat kedua menduga wayang berasal dari India, yang dibawa bersama dengan agama Hindhu ke Indonesia. mereka antara lain adalah Pischel, Hidding, Krom, Poensen, Goslings, dan Rassers. Sebagian besar kelompok kedua ini adalah sarjana Inggris, negeri Eropa yang pernah menjajah India.
Penyelenggaraan wayang kulit semalam suntuk telah digambarkan dalam serat weda purwaka dan pupuh dhandanggula. Di dalam pupuh dhandanggula dapat disimpulkan bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan pertunjukan wayang kulit mempunyai simbol-simbol tersendiri. Dalam dunia pewayangan dalang merupakan unsur terpenting pada sebuah pementasan, terlepas dari apa pun tema yang akan dipentaskan. Meski seorang dhalang sudah terlihat memiliki kepandaian dalam berbagai seni, pengetahuan Jawa, namun ada sebutan (pilihan) tersendiri, yang menunjukkan kelebihan seorang dhalang, yaitu: Dalang Sejati, Dalang Purba, Dalang Wasesa, Dalang Guna, Dalang Wikalpa.
Untuk jenis-jenis wayang kulit sendiri yaitu:
1.      Wayang Purwa, Kata purwa dipakai untuk membedakan wayang jenis ini dengan wayang kulit lainnya. Wayang purwa diperkirakan mempunyai unsur yang paling tua diantara wayang kulit lainnya
2.      Wayang Parwa, Wayang Parwa adalah wayang kulit yang paling populer dan terdapat di seluruh Bali.
3.      Wayang Kulit Betawi, Dipastikan bahwa tradisi bentuk pertunjukan wayang kulit betawi memang berasal dari Jawa. Walaupun kemungkinan besar wayang kulit betawi berasal dari Mataram, tetapi perkembangannya kemudian dalam kurun waktu puluhan tahun secara eksistensial sama sekali tidak adanya keterkaitan dengan daerah asal tradisi bentuk kesenian tersebut.
4.      Wayang Madya, adalah wayang kulit yang diciptakan oleh Mangkunegara IV sebagai penyambung cerita wayang purwa dengan wayang gedhog.
5.      Wayang Gedog, disebut juga wayang panji atau wayang yang memakai cerita dari serat panji.
6.      Wayang calonarang juga sering disebut sebagai wayang leyak, adalah salah satu jenis wayang kulit Bali yang dianggap angker karena dalam pertunjukannya banyak mengungkapkan nilai-nilai magis dan rahasia pangiwa dan panengen.
7.      Wayang krucil pertama kali di ciptakan oleh pangeran Pekik dari Surabaya, Wayang ini terbuat dari bahan kulit berukuran kecil sehingga lebih sering disebut dengan wayang Krucil.







DAFTAR PUSTAKA
Ismunandar. 1994. Wayang: Asal-Usul dan Jenisnya. Semarang: Dahara Prize.
Padmosoekotjo. 2005. Silsilah Wayang Kulit Purwa Mawa Cerita. Surabaya:PT
Citra Jawa Murti.
Rif’an Ali. 2010. Buku Pintar Wayang. Yogyakarta:Gara Ilmu.
Sri Mulyono. 2006. Wayang:Asal-Usul Filsafat dan Masa Depannya. Surabaya:
       Gunung Agung.
Wisnu Dewabrata. 2011. 75 Pemimpin Wayang Kulit Inspiratif.  Yogyakarta:Crop
Circle Crop Zon.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar