WAYANG KULIT
Makalah ini disusun guna menyelesaikaan tugas Matakuliah Etika
Budaya Jawa Dosen pengampu: Ertris
Bergas T, M.Pd.
![]() |
Di
susun oleh: Kelompok 4
1. Nanik
Tasdiqoh (23010-15-0291)
2. Siti
Rahmaniah (23010-15-0142)
3. Muhammad
Nasih Faza (23010-15-0033)
4. Nasaluk
Ghufron (23010-15-0356)
5. Muhammad
Hadi Santoso (23010-15-0107)
6. Prayoga
Septianto (23010-15-0217)
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
INSTUTUT
AGAMA ISLAM NEGERI SALATIGA
2016
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Wayang adalah
boneka tiruan yang terbuat dari kulit atau kayu dsb, yang dapat dimanfaatkan untuk memerankan
tokoh dalam pertunjukan drama tradisional (Bali, Jawa, Sunda, dsb), biasanya
dimainkan oleh seseorang yang disebut dalang. Namun ada juga yang mengartikan
bahwa perkataan wayang berasal dari bahasa Jawa, yang artinya perwajahan yang
mengandung penerangan. Seni Wayang, merupakan salah satu bentuk teater
tradisional yang paling tua di Indonesia. pada masa pemerintahan Raja Balitung
pertunjukan wayang telah ada, hal tersebut ditemukan pada prasasti Balitung
tahun 907 M. Sejarah perkembangan seni wayang di Indonesia, yaitu pada abad
ke-4 orang-orang Hindu datang ke Indonesia, melalui jalur perdagangan. Pada
kesempatan tersebut orang-orang Hindu membawa ajarannya dengan Kitab Weda dan
epos cerita Mahabarata dan Ramayana dalam bahasa Sanskrit. Kemudian Abad ke-9
bermunculan cerita-cerita dengan bahasa Jawa kumo dalam benuk kakawin yang
bersumber dari cerita Mahabarata atau Ramayana, yang telah diadaptasi.
Berhubungan dengan itu, makalah ini akan memaparkan studi pustaka yang telah
kami lakukan. Adapun hal yang melatarbelakangi studi pustaka dan analisis Seni
Wayang ini adalah sebagai wujud apresiasi kami sebagai penikmat seni terhadap
budaya tradisional, yang kian hari semakin tersisih oleh budaya asing. Oleh
karena itu kami akan mengkaji tentang wayang kulit yaitu meliputi pengertin
wayang kulit itu sendiri, kemudian bagaimana perkembangan wayang kulit,
bagaimana pakem pagelaran wayang kulit, dan apa saja jenis-jenis wayang kulit. Semoga
dengan penyusunan makalah ini, kita menyadari keindahan dan keagungan budaya
tradisional yang harus kita lestarikan, kita jaga dan kita banggakan sebagai
kekayaan budaya bangsa.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Wayang Kulit
Pengertian wayang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah:
“Boneka tiruan yang dibuat dari kulit
yang diukir, kayu yang dipahat, dan sebagainya yang dapat dimanfaatkan untuk
memerankan tokoh dipertunjukan drama tradisional yang dimainkan oleh seorang
dalang”. (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 2002:1010)
Pengertian wayang adalah walulang inukir (kulit yang diukir) dan
dilihat byangannya pada kelir. Dengan demikian, wayang yang dimaksud tentunya
adalah Wayang Kulit seperti yang kita kenal sekarang. Tapi akhirnya makna kata
ini meluas menjadi segala bentuk pertunjukkan yang menggunakan dalang sebagai
penuturnya disebut wayang. Oleh karena itu terdapat wayang golek, wayang beber,
dan lain-lain. Pengecualian terhadap wayang orang yang tiap boneka wayang
tersebut diperankan oleh aktor da aktris sehingga menyerupai pertunjukan drama.
(Mulyono, 2006:154)
Sedangkan untuk pengertian Wayang Kulit itu sendiri yaitu, seni
tradisional Indonesia, yang terutama berkembang di pulau Jawa dan di sebelah
timur semenanjung Malaysia seperti di Kelantan dan Terengganu. Wayang Kulit
dimainkan oleh seorang dalang yang juga menjadi narator dialog tokoh-tokoh
wayang, dengan diiringi oleh musik gamelan yang dimainkan sekelompok nayaga dan
tembang yang dinyanyikan oleh para pesinden. Dalam memainkan wayang kulit
dibalik kelir, yaitu layar yang terbuat dari kain putih, sementara di
belakangnya disorotkan lampu listrik atau lampu minyak (blencong), sehingga
para penonton yang berada di sisi lain dan layar dapat melihat bayangan wayang
yang jatuh ke kelir. Untuk dapat memahami cerita wayang (lakon), penonton harus
memiliki pengetahuan akan tokoh-tokoh wayang yang bayangannya tampil di layar.
(Mulyono, 2006:156)
Dan di dalam wayang kulit terdapat tokoh sebagai peran utama dalam
cerita pakem jawa diantaranya adalah:
Puntadewa, sebagai raja (Syahadat bagaikan rajanya, rajanya rukun
Islam) dan saudara-saudaranya merupakan symbol rukun Islam. Puntadewa memiliki
sifat “berbudi bawa leksana, berbudi luhur dan penuh kewibawaan. Seorang raja
yang arif dan bijaksana, adil dalam ucapan dan perbuatan (al-adlu), sebagai
pengejawantahan dari kalimat syahadat yang selamanya mengilhami kearifan dan keadilan.
Puntadewa memimpin ke-4 adiknya atau biasa dikatakan keempat saudaranya dalam
suka duka dan penuh kasih sayang. Demikian pula dalam rukun Islam yang kedua,
ketiga, keempat, dan kelima namun tidak menjalankan rukun Islam yang pertama
maka seluruh amalnya akan sia-sia. Terlebih orang yang akan menyebutmu sebagai
orang yang munafik (hiprokrit). Prabu Puntadewa tidak pernah mati selama ia
memiliki azimat “Kalimosodo” (kalimat syahadat atau syahadatain),
senantiasa unggul dalam setiap perjuangan dan selalu ikhlas dan menyayangi
rakyatnya. (Dewabrata, 2011:145)
Tokoh Bima atau Werkudara, dia dipersonifikasikan sebagai rukun
Islam yang kedua yaitu Shalat lima waktu. Dalam kisah pewayangan, Bima terkenal
sebagai penegak Pandawa. Ia hanya bisa berdiri saja, karena memang tidak bisa duduk,
konon menurut cerita pewayangan “tidurpun Bima dengan berdiri”. Seperti halnya
hadis Nabi Muhammad SAW yang artinya:
“Sholat adalah tiang agama, barang siapa
yang menjalankannya maka ia menegakkan Islam dan barang siapa yang
meninggalkannya maka ia merobohkan Islam”. (Dewabrata, 2011:146)
Dalam kehidupannya sehari-hari Bima selalu menggunakan “ Bahasa
Ngoko” atau Bahasa Jawa kasar baik itu kepada dewa, pendeta, kyai, dan lain
sebagainya. Lmbang rukun Islam yang kedua shalat lima waktu, maka sholat
berlaku terhadap siapapun, kapanpun dan dimanapun. (Dewabrata, 2011:45)
Arjuna atau Janoko, dia di personifikasikan sebagai rukun islam
yang ketiga, yaitu Zakat dalam cerita pewayangan dia disebut sebagai
“lelanganing jagad” (lelaki pilihan). Nama Arjuna berasal dari kata “Jun”
yang artinya Jambangan. Benda ini merupakan symbol jiwa yang bersih. Banyak
wanita yang “nandhang gandrung kapirangu lan kapilayu” (tergila-gila)
kepadanya. Arjuna memiliki sifat yang sangat lemah lembut, terlebih terhadap
kaum wanita, dia sangat tidak bisa mengatakan “tidak” (seperti orang Jawa pada umumnya diluar mengatakan tidak padahal batinnya
meng iyakan). Dengan kehalusan dan kelembutan Arjuna maka ia terlihat lemah dan
tidak berdaya, namun sebenarnya dibalik kehalusannya terdapat kekuatan yang
sangat luar biasa. Terbukti Arjuna selalu unggul dalam setiap pertempuran. Maka
demikianlah zaat sebagai rukun Islam yang ketiga kewajiban bagi setiap muslim
disini juga mengandung arti agar setiap muslim dimanapun berada agar berjuang
untuk mendapatkan rizqi dan kekayaan. Setiap orang pasti menginginkan “mas peci
raja bejana” (harta kekayaan dan lain-lain). Maka agar harta itu berfugsi
sosial dan pembersih maka harus di zakati agar suci dan bersih lahir batinnya.
(Dewabrata, 2011:25)
Nakula dan Sadewa, dia dipersonifikasikan sebagai rukun Islam yang
keempat dan kelima yaitu Puasa di bulan Ramadhan dan Haji. Kedua tokoh ini
hanya bertemu pada saat-saat tertentu saja. Demikian juga dengan puasa ramadhan
dan haji tidak setiap hari dikerjakan. Hanya dikerjakan dalam waktu ertentu
saja misalnya, puasa setahun sekali pada bulan Ramadhan, dan haji juga setahun
sekali pada bulan dzulhijah di Mekkah al-Mukaromah. Pandawa bukanlah
Pandawa tanpa si kembar nakula sadewa, meskipun mereka ini lahir dari ibu ynag
lain, Dewi Madrim yang ikut “labuh geni” (menceburkan diri kedalam api
bila suaminya meninggal menurut tradisi Hindu) dengan suaminya Pandu Dewanata.
Memang dengan demikian Puasa Ramadhan dan Haji lahir pada bulan-bulan tertentu
(ramadhan dan dzulhijah). (Dewabrata, 2011:97)
B.
Sejarah Perkembangan Wayang Kulit
Wayang adalah salah satu puncak seni budaya bangsa Indonesia
khususnya di pulau Jawa yang paling menonjol di antara banyak karya budaya
lainnya. Budaya wayang meliputi seni peran, seni suara, seni musik, seni tutur,
seni sastra, seni lukis, seni pahat, dan juga seni perlambang. Budaya Wayang
yang terus berkembang dari zaman ke zaman juga merupakan media penerangan
dakwah, pendidikan, hiburan, pemahaman filsafat, serta hiburan. (Mulyono, 2006:
239)
Menurut penelitian para ahli sejarah kebudayaan, budaya wayang
merupakan budaya asli Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Walaupun cerita
wayang yang populer di masyarakat masa kini merupakan adaptasi dari karya sastra
India, yaitu Ramayana dari Mahabarata. Kedua induk cerita itu dalam pewayangan
banyak mengalami perubahan dan penambahan untuk menyesuaikan dengan falsafah
asli Indonesia. (Mulyono, 2006: 240)
Penyesuaian konsep filsafat ini juga menyangkut pada pandangan
filosofis masyarakat Jawa terhadap kedudukan para dewa dalam pewayangan. Para
dewa dalam pewayangan bukan lagi merupakan satu yang bebas dari salah,
melainkan seperti jiga makhluk Tuhan lainnya, kadang-kadang bertindak keliru,
dan bisa jadi khilaf. Hadirnya tokoh punakawan dalam pewayangan sengaja
diciptakan para budayawan Indonesia (tepatnya budayawan Jawa) untuk memperkuat
konsep filsafat bahwa di dunia ini tidak ada makhluk yang benar-benar baik, dan
yang benar-benar baik, dan yang benar-benar jahat. Setiap makhluk selalu
menyandang unsur kebaikan dan kejahatan.
(Mulyono, 2006: 241)
Ada dua pendapat mengenai asal-usul wayang. Pertama, pendapat bahwa
wayang berasal dan lahir pertama kali di Pulau Jawa, tepatnya di Jawa Timur.
Pendapat ini selain dianut dan dikemukakan oleh para peneliti dan ahli-ahli
bangsa Indonesia, juga merupakan hasil penelitian sarjana-sarjana Barat. Di
antara para sarjana Barat yang termasuk kelompok ini, adalah Hazeau, Brandes,
Kats, Rentse dan Kruyt. (Mulyono, 2006: 242)
Alasan mereka cukup kuat. Di antaranya, bahwa seni wayang yang
masih amat erat kaitannya dengan keadaan sosiokultural dan religi bangsa
Indonesia, khususnya orang Jawa. Punakawan, tokoh terpenting dalam pewayangan
yakni Semar, Gareng. Petruk, Bagong, hanya ada dalam pewayangan Indonesia, dan
tidak di negara lain. Selain itu, nama dan istilah teknis pewayangan, semuanya
berasal dari bahasa Jawa (Kuna), dan bukan bahasa lain. (Mulyono, 2006: 243)
Sementara itu, pendapat kedua menduga wayang berasal dari India, yang
dibawa bersama dengan agama Hindhu ke Indonesia. mereka antara lain adalah
Pischel, Hidding, Krom, Poensen, Goslings, dan Rassers. Sebagian besar kelompok
kedua ini adalah sarjana Inggris, negeri Eropa yang pernah menjajah India.
Namun, sejak tahun 1950-an, buku-buku peayangan seolah sudah
sepakat bahwa wayang memang berasal dari Pulau Jawa dan sama sekali tidak
diimpor dari negara lain. Budaya wayang diperkirakan sudah lahir di Indonesia
setidaknya pada zaman pemerintahan Prabu Airlangga, raja Kahuripan (976-1012),
yakni ketika kerajaan di Jawa Timur itu sedang makmur-makmurnya. Karya sastra
yang menjadi bahan cerita wayang sudah ditulis oleh para pujangga Indonesia,
sejak abad X. Antara lain, naskah Kitab Ramayana Kakawin berbahasa Jawa Kuna
ditulis pada masa pemerintahan raja Dyah Balitung (989-910), yang merupkan
gubahan dari Kitab Ramayana karangan pujangga India, Walmiki. (Mulyono, 2006:
244)
Selanjutnya,para pujangga Jawa tidak lagi hanya menerjemahkan
Ramayana dan Mahabarata ke bahasa Jawa Kuna, tetapi menggubahnya dan
menceritakan kembali dengan memasukkan falsafah Jawa kedalamnya Contohnya,
karya Empu Kanwa Arjunawiwaha Kakawin, yang merupakan gubahan yang berinduk
pada Kitab Mahabarata. Gubahan lain yang lebih nyata bedanya dengan cerita asli
versi Indi, adalah Baratayuda Kakawin karya Empu Sedah dan Empu Panuluh. Karya
agung ini dikerjakan pada masa pemerintahan Peabu Jayabaya, raja Kediri
(1130-1160).
Wayang sebagai suatu pergelaran dan tontonan pun sudah dimulai pada
sejak zaman pemerintahan raja Airlangga. Beberapa prasasti yang dibuat pada
masa itu antara lain sudah menyebutkan kata-kata”mawayang” dan “aringgit” yang
maksudnya adalah pertunjukan wayang. (Mulyono, 2006: 245)
Ya, jadi disini ada 2 pendapat mengenai asal usul wayang, yang
pertama Menurut penelitian para ahli
sejarah kebudayaan, budaya wayang merupakan budaya asli Indonesia, khususnya di
Pulau Jawa. Walaupun cerita wayang yang populer di masyarakat masa kini
merupakan adaptasi dari karya sastra India, yaitu Ramayana dari Mahabarata.
Kedua induk cerita itu dalam pewayangan banyak mengalami perubahan dan
penambahan untuk menyesuaikan dengan falsafah asli Indonesia. Sementara itu,
pendapat kedua menduga wayang berasal dari India, yang dibawa bersama dengan
agama Hindhu ke Indonesia. mereka antara lain adalah Pischel, Hidding, Krom,
Poensen, Goslings, dan Rassers. Sebagian besar kelompok kedua ini adalah
sarjana Inggris, negeri Eropa yang pernah menjajah India.
C.
Pakem Pagelaran Wayang Kulit sebagai Perjalanan Hidup Manusia
Penyelenggaraan wayang kulit semalam suntuk telah digambarkan dalam
serat weda purwaka dan pupuh dhandanggula. Di dalam pupuh dhandanggula dapat
disimpulkan bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan pertunjukan wayang
kulit mempunyai simbol-simbol sendiri antara lain sebagai berikut:
a.
Orang
yang mempunyai hajat wayangan (yang menganggap wayang) diumpamakan seperti yang
Maha Widi.
b.
Dhalang
menggambarkan Tri Murti, yang dimaksud Tri Murti dalam agama Hindhu yaitu
Brahma, Wisnu dan Rudra Brahma, Brahma sebagai pencipta, wisnu sebagai
pemelihara dan Rudra sebagai perusak. Namun dalam hal ini dikaitkan dengan
sifat tuhan sebagai pencipta, pemelihara dan sebagai pemberi adzab.
c.
Wayang
yang dimainkan menggambarkan makhluk.
d.
Blencong
menggambarkan matahari.
e.
Kelir
atau layar menggambarkan angkasa (langit).
f.
Debog
atau batang pisang menggambarkan bantalan (bumi tanah).
g.
Gamelan
menggambarkan keutuhan manusia hidup didunia. (Padmosoekotjo, 2005: 16)
Sedangkan
hal-hal lain yang berhubungan dengan pagelaran wayang kulit sebagai gambaran manusia adalah:
a.
Orang
yang mempunyai hajat wayangan diibaratkan sebagai Hyang Atma (jiwa manusia).
b.
Dalang
sebagai pencipta dan karsa manusia.
c.
Wayang
simbol dari pada nafsu manusia yang terdapat
pada panca indera.
d.
Kelir
atau layar menggmbarkan angan-angan manusia.
e.
Debog
atau batang pisang melambangkan jasmani atau raga manusia.
f.
Blencong
atau lampu, melambangkan pramana (denyut jantung yang menjadi tanda kehidupan.
g.
Gamelan
melambangkan kebutuhan hidup manusia.
h.
Kotak
tempat menyimpan wayang menggambarkan sangkan paran (asal mula dan
tujuan), yaitu asal mula manusia sebelum hidup dan tempat manusia setelah mati.
i.
Gunungan
atau kayon melambangkan kehidupan (dari kata Khayyun, khayyun
yang berarti hidup).
j.
Cempala
atau alat untuk melukiskan jantung manusia, karena bentuk dari cempala hampir
mirip sepert jantung.
k.
Kepyak
menggambarkan peredaran darah pada urat nadi.
(Padmosoekotjo, 2005: 18)
Sedangkan urut-urutan jalan cerita pagelaran wayang kulit yaitu:
1.
Jejer
pathet enem (bisa diartikan:Adegan dengan dasar 6) atau jejer pathet Lasem,
adegan Sang Prabu di ruang persidangan (perepatan agung) bersama patih,
penasehat atau tetua kraton membahas sesuatu hal. Adegan ini menggambarkan apa
yang terpikirkan. Dari awal inilah asal mula semua yang akan terjadi
digambarkan, diungkapkan.
2.
Kadhatonan
atau Gupitmandragini, adegan di dalam keraton, (Gupitmandragini: ruang untuk wanita
utama), pertemuan antara Sang Prabu dengan Prameswari (lelaki dan wanita), yang
menggambarkan menyatunya pikir dan rasa menjadi karsa (niat), yaitu keinginan
(niat) untuk memiliki keturunan (anak).
3.
Paseban
Jaba (tempat menghadap seba di sebelah luar dari balairung), patih menyampaikan
apa yang menjadi inti persidangan kepada mantri dan putra raja, lalu memberikan
perintah untuk menyiapkan wadyabala (pasukan). Adegan ini menggambarkan
kelahiran si jabang bayi.
4.
Bodholan
(budhaling wadyabala), Pemberangkatan (berangkatnya pasukan) berangkatnya
pasukan dari kerajaan (angka 1), ditandai dengan suluk “Ada-ada Hastakuwala”
dan “Ada-ada Budhalan Mataraman”. Adegan ini menggambarkan pola sang jabang
bayi yang mulai bertambah usia.
5.
Jejer
sabrangan, adegan di kerajaan seberang (kerajaan lain). Sang Prabu yang juga
membahas sesuatu hal dengan patih atau penasehatnya. Adegan ini menggambarkan
si jabang bayi sudah menjadi anak-anak (bocah), dan mulai mempunyai
keinginan-keinginan.
6.
Perang
gagal, ada dua macam perang yang terjadi pada pathet enem yaitu: (1) perang
ampyak: digambarkan dengan pasukan kerajaan (rampogan) yang memperbaiki jalan,
dan dimainkan setelah adegan bodholan (budhaling wadyabala), (2) perang
simpangan: digambarkan pasukan kerajaan (angka 1) bertemu dengan pasukan
kerajaan seberang dan terjadi perselisihan, namun memilih menghindari
terjadinya pertempuran dengan menyimpang. Dimainkan setelah jejeran kerajaan
seberang. Di Pathet enem ini hanya ada satu perang dan belum ada paraga (toko
wayang) yang mati. Adegan ini menggambarkan anak (bocah) yang belum dewasa,
sehingga belum bisa mengendalikan hawa nafsunya. Pathet enem berakhir dan
memasuki pathet sanga (babak ke dua).
7.
Pathet
sanga dibuka dengan adegan gara-gara. Dunia dalam keadaan seakan menghadapi kiamat
oleh berbagai bencana alam. Manusia hanya mampu berlarian kesana kemari mencari
perlindungan. Para pandhita tak mampu mengucap mantra, tak kuasa bersemedi.
Sang Raja tak berdaya, hanya bisa berharap pertolongan dewa. Namun dewa juga
bersedih, karena bencana juga melanda Suralaya. Di tengah gara-gara tiba-tiba
muncullah 2 bocah bajang (orang kredil) yang membawa tempurung berlubang 3
(batok bolu atau bolong telu) hendak menguras samudra dan mengeringkannya.
Seorang yang lain membawa sebatang lidi (sedalanang) hendak menggiring angin
menyapu jagad. Keduanya berebut kebenaran yang menambah dahsyatnya bencana.
Namun kehendak Sang Pencipta, gara-gara perlahan mereda dengan munculnya
seberkas sinar memancarkan cahaya bak purnama. Seiring sinarnya sinar tu muncul
muncullah dewa berwujud manusia. Berdiri seakan tugu batu, duduk laksana gumuk
(bukit). Itulah Sang Hyang Ismaya atau Ki Lurah Semar.
8.
Jejer
Pandhita, bambang (satrya muda) menghadap pandhita dan menerima petuah. Adegan
yang menggambarkan anak (bocah) yang mulai dewasa (pemuda), pikiran dan hatinya
mulai terbuka dan mulai mencari pengetahuan (ngangsu kawruh), menimba ilmu,
untuk bekal menjalani kehidupan.
9.
Jejer
Madyaning alas, adegan ini di tengah hutan. Bambang (satrya muda) dengan
diiringi punakawan (Semar,Gareng, Petruk dan Bagong), bertemu dengan 3 danawa
(raksasa). Terjadi pertengkaran dan perkelahian yang dimenangkan oleh sang
bambang dengan berhasil membunuh ke 3 danawa tersebut. 3 danawa adalah gambaran
dari watak angkara murka (hawa nafsu) yang berhasil ditundukkan oleh satrya
muda setelah ngangsu kawruh nggilut ilmu. Selanjutnya memasuki babak ke tiga,
pathet manyura.
10.
Adegan
warna-warni. Yang menggambarkan bahwa dalam menempuh perjalanan hidup, manusia
akan mengalami kejadian beraneka macam, berbgai rasa, senang, susah, mujur,
sial, untung, malang, menang, kalah dsb. Dari setiap kejadian itulah menusia
memetik ikmah dan menempa pribadinya.
11.
Perang
bubruh, secara harfiah bermakna perang dengan emosi yang meluap (amuk-amukan).
Disebut juga ayaj-ayakan dan diiringi dengangendhing sampak. Raja dari seberang
dan pasukannya menyerang ke kerajaan pada jejer kawitan (adegan pertama) dan
terjadilah perang amuk-amukan (bubruh). Raja seberang dan pasukannya kalah.
Bila Raja seberang adalah dewa atau satrya yang bersalin wujud (mancala warna),
maka kembalilah pada wujud yang sebenarnya. Bila perang tubuh ini terjadi pada
jaman Prabu Rama (Ramayana), maka yang merampungi (menyelesaikan) selalu adalah
Hanuman. Bila perang bubruh ini terjadi pada jaman Pandawa (Bharatayudha), maka
yang merampungi (menyelesaikan) selalu adalah Bima (Werkudara). Hanuman dan
Bima disebut Bayu Suta, anak Sang Hyang Bayu, yang dimaksudkan adalah “angin
kecil” yaitu nafas (ambegan). Adegan perang bubruh adalah perlambang bahwa pada
akhirnya nafas jualah yang mengakhiri perjalanan hidup manusia.
12.
Berkumpulnya Raja, putra raja dalam suasana yang
menyenangkan, adalah gambaran manusia yang meninggal dunia dengan tenang,
karena telah menjalankan kewajibannya sebagai “titah” dengan sebaik-baiknya. (Padmosoekotjo, 2005:50)
Jejer kawitan
(adegan permulaan) dan jejer sabrangan (adegan sebrangan), tidak selalu
menggambarkan adegan di sebuah kerajaan. Dalam lakon “Wahyu Tojali” jejer
kawitan adalah keadaan di Kahyangan (Suralaya). Setelah cerita pagelaran wayang
kulit selesai, sebelun tancep kayon, dhalang mengeluarkan wayang golek (wayang
yang terbuat dari kayu, dari Jawa Barat), dan menarikan wayang golek tersebut.
Hal ini bermakna sasmita dari dhalang: “Golekana Surasane”, carilah
maknanya. Pertunjukan wayang, pada hakikatnya, adalah simbolisasi perjalanan
hidup manusia, dari lahir hingga mati.
Ya, jadi segala
sesuatu yang ada pada pakem pagelaran wayang, itu semua mengandung
simbol-simbol dan filosofi tersendiri, tidak semata-mata hanya pertunjukkan
belaka, simbol-simbol tersebut mempunyai makna tersendiri yang ternyata sangat
luar biasa, mulai dari segala sesuatu atau alat yang digunakan untuk pakem
pagelaran wayang kulit, ataupun dari hal-hal lain yang berhubungan dengan pagelaran
wayang kulit sebagai gambaran manusia, dan sampai urut-urutan atau step by
step nya jalan cerita pagelaran wayang kulit semua mempunyai arti dan makna
tersendiri, yang ternyata filosofinya sangat luar biasa jika kita
mengetahuinya.
D.
Dalang Sebagai Juru Dakwah
Dalam dunia pewayangan dalang merupakan unsur terpenting pada
sebuah pementasan, terlepas dari apa pun tema yang akan dipentaskan. Berkaitan
dengan kegiatan dakwah Islamiah ataupun yang lainya, seorang dalang pun dapat
di kategorikan sebagai juru dakwah atau seorang Da’i melalui profesinya tersebut. Hal ini memungkinkan
karena dalam setiap pementasan sebuah pagelaran wayang seorang dalang sangat
mungkin menyampaikan pesan-pesan agamis dalam setiap lakon yqang dipentaskan.
Dahulu pada saat awal-awalnya perkembangan Islam di Nusantara, para penyebar
Islam khususnya Walisongo yaitu Sunan Kalijaga juga telah menggunakan media
wayang untuk mendukung kegiatan dakwahnya, dan ternyata berhasil. Faktor-faktor
yang memungkinkan seorang dalang menjadi seorang juru dakwah diantaranya:
a.
Karakter
dalang yang faham betul isi cerita lakon pewayangan yang umumnya mengandung
tema kehidupan sosial. Apapun temanya, baik tentang kerajaan, mahabarata,
cerita hindu dan sebagainya, namun semua itu bisa dimasuki pesan-pesan bernilai
Islami tanpa harus merubah inti dan isi cerita secara keseluruhan atau sebagian
dengan kecerdasan dan wawasan yang dimiliki, profesi seorang dalang dapat
dengan mudah untuk melakukannya.
b.
Wayang
merupakan kesenian tradisional yang masih banyak digemari, dan biasanya dalang
sangat dikagumi oleh para penggemarnya. Situasi ini dapat digunakan seorang
dalang untuk mrnyampaikan pesan-pesan bernilai Islami pada setiap pementasannya
tentunya di selingi oleh humor-humor yang mendidik yang dapat mempengaruhi pada
audiennya.
c.
Tema
wayang megikuti zaman sehingga dalang tidak akan ditinggalkan ole penggemarnya,
sehingga ia akan terus berdakwah. (Ali, 2010:98)
Meski seorang dhalang sudah terlihat memiliki kepandaian dalam
berbagai seni, pengetahuan Jawa, namun ada sebutan (pilihan) tersendiri, yang
menunjukkan kelebihan seorang dhalang, yaitu:
1)
Dalang
Sejati, yaitu Dhalang yang ketika mementaskan sebuah lakon cerita wayang berisi
ajaran ilmu kebatinan (kawruh kebhatinan), sangka paraning dumadi (asal dan
tujuan makhluk hidup manusia), memberi “terang” (tinarbuka) pada penonton yang
hatinya masih gelap dan wejangan-wejangan tentang hidup menuju kesempurnaan.
Agar antara lahir dan batin selaras (jumbuh).
2)
Dhalang
Purba, yaitu Dhalang yang memainkan wayang dengan lakon cerita yang beraneka
macam, namun juga memberi wejangan secara halus dan mampu meresap ke sanubari
penonton tentang berbagai hal yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari,
sehingga secara perlahan menuntun lahir dan batin menuju kesemprnaan. Dhalang
Purba adalah seorang yang sudah mampu merasakan rasa halus dan kasarnya
manusia.
3)
Dhalang
Wasesa, yaitu Dhalang yang mahir (mempunyai penjiwaan yang kuat) memainkan tokoh dan cerita wayang . sehingga,
karena pandainya menceritakan, menggunakan kata-kata, memainkan wayang, cerita
(lakon) tersebut seakan hidup perasaan dan pikiran penonton terbawa. Ikut sedih
ketika tokoh wayang susah, tertawa ketika suasana gembira dan sebagainya.
4)
Dhalang
Guna, yaitu Dhalang yang kemampuannya
menguasai pakeliran hanya pada cerita yang menyenangkan penonton, namun cerita
(lakon) yang dibawakan tanpa “isi” hanya sekedar ramai. Memainkan wayang secara
lugu, juga pengusasaannya dalam hal gendhing. Ibarat “Dhalang kurang lakon”.
5)
Dhalang
Wikalpa, yaitu Dhalang yang cara membawakan cerita, memainkan wayang
pengetahuan tentang seni pagelaran wayang, semua seperti ketika belajar di
sekolah Padhalangan. Jadi lebih seperti meniru saja, tidak mempunyai kemampuan
untuk mengembangkan diri. (Ali, 2010:100)
E.
Jenis-Jenis Wayang Kulit
1.Wayang
Purwa
Kata purwa dipakai unutk membedakan
wayang jenis ini dengan wayang kulit lainnya. Wayang purwa atau wayang kulit
purwa berarti asal (pertama). Wayang purwa diperkirakan mempunyai unsur yang
paling tua diantara wayang kulit lainnya. Wayang kulit purwa terbuat dari bahan
kulit yang ditatah, diberi warna sesuai dengan kaidah pulasa wayang pedalangan,
diberi tangkai dari bahan tanduk kerbau bule, yang diolah sedemikian rupa
dengan nama cempurit, yang terdiri dari tuding dan gapit. (Ali, 2010: 19)
2.
Wayang Parwa
Wayang Parwaa adalah wayang kulit yang
paling populer dan terdapat di seluruh Bali. Wayang Parwa meruakan wayang kulit
yang membawakan lakon-lakon yang bersumber dari cerita Mahabarata yang juga
dikenal sebagai Astha Dasa Parwa. Wayang ini dipentaskan dalam kaitannya dengan
berbagai jeis upacara adat dan agama, walaupun pertunjukannya sendiri bersifat
modern. (Ali, 2010: 20)
3.
Wayang Kulit Betawi
Dipastikan bahwa tradisi bentuk pertunjukan
wayang kulit betawi memang berasal dari Jawa. Ada ahli yag menyatakan bahwa
wayang kulit masuk ke Betawi pada zaman penyerbuan ultan Agung Hantjokorokusumo
ke Mataram tahun 1682-1629. Walaupun kemungkinan besar wayang kulit betawi
berasal dari Mataram, tetapi perkembangannya kemudian dalam kurun waktu puluhan
tahun secara eksistensial sama sekali tidak adanya keterkaitan dengan daerah
asal tradisi bentuk kesenian tersebut. Bahkan juga tidak terpengaruh tradisi
bentuk pertunjukan wayang golek Sunda di Jawa Barat yang secara factural memang
banyak kesamaannya. (Munandar, 1994: 107)
4.
Wayang Madya
Adalah wayang kulit yang diciptakan oleh
Mangkunegara IV sebagai penyambung cerita wayang purwa dengan wayang gedhog.
Cerita wayang madya merupakan peralihan cerita purwa ke cerita panji. Salah
satu cerita wayang madya yang terkenal adalah cerita Anglingdarma. Wayang madya
tidak sempat berkembang diluar lingkungan Pura Mangkunegaran. (Munandar, 1994:
108)
5.
Wayang Gedog
Wayang Gedog atau wayang panji atau wayang
yang memakai cerita dari serat panji. Wayang ini mungkin telah ada sejak zaman
majapahit, wayang gedog yang kita kenal sekarang konon diciptakan oleh Sunan
Giri pada tahun 1485 pada saat mewakili Raja Demak yang sedang melakukan
penyerbuan ke Jawa Timur, sebutan wayang gedog berasal dari pertunjukan wayang
gedog yang mula-mula tanpa iringan kecrek (besi), sehingga bunyi suara keprek,
dog, sangat dominan. (Munandar, 1994: 108)
6.
Wayang Calonarang
Wayang calonarang juga sering disebut
sebagai wayang leyak, adalah salah satu jenis wayang kulit Bali yang dianggap
angker karena dalam pertunjukannya banyak mengungkapkan nilai-nilai magis dan
rahasia pangiwa dan panengen. Wayang ini pada dasarnya adalah pertunjukan
wayang yang mengkhususkan lakon-lakon dari cerita calonarang. Kekhasan
pertujukan wayang calonarang ini terletak pada tarian sisi-nya, yaitu dengan
teknik permainan ngalinting dan adegan ngundang-ngundang, dimana sang dalang
membeberkan atau menyebut nama-nama mereka yang mempraktekkan pangiwa.
(Munandar, 1994: 108-109)
7.
Wayang Krucil
Wayang krucil pertama kali di ciptakan oleh
pangeran Pekik dari Surabaya, Wayang ini terbuat dari bahan kulit berukuran
kecil sehingga lebih sering disebut dengan wayang Krucil. Dalam
perkembangannya, wayang ini menggunakan bahan kayu pipih (dua dimensi) yang
kemudian dikenal sebagai wayang klithik.
Di daerah Jawa
Tengah, wayang krucil memiliki bentuk yang mirip dengan wayang gedog.
Tokoh-tokohnya memakai dodot rapekan, berkeris dan menggunakan tutup
kepala tekes (kipas. Sedangkan di Jawa Timur, Tokoh-tokohnya banyak yang
menyerupai wayang kulit purwa, raja-rajanya bermahkota dan memakai praba,
di Jawa Tengan tokoh-tokoh rajanya bergelung keling atau garuda mungkur saja.
Ada dua pendapat mengenai asal-usul wayang. Pertama, pendapat bahwa wayang
berasal dan lahir pertama kali di Pulau Jawa, tepatnya di Jawa Timur. Pendapat
ini selain dianut dan dikemukakan oleh para peneliti dan ahli-ahli bangsa
Indonesia, juga merupakan hasil penelitian sarjana-sarjana Barat. Di antara
para sarjana Barat yang termasuk kelompok ini, adalah Hazeau, Brandes, Kats,
Rentse dan Kruyt. (Munandar, 1994: 109)
Jadi, wayang kulit mempunyai beberapa macam jenis yang
masing-masing jenisnya mempunyai keunikan dan ciri khas tersendiri, yang dapat
membedakan antara wayang kulit yang satu dengan yang lain. Demikian pembahasan
mengenai jenis-jenis wayang kulit ini sekaligus mengakhiri pembahasan pada
makalah ini.
BAB III
KESIMPULAN
Wayang Kulit yaitu, seni tradisional Indonesia, yang
terutama berkembang di pulau Jawa dan di sebelah timur semenanjung Malaysia
seperti di Kelantan dan Terengganu. Wayang Kulit dimainkan oleh seorang dalang
yang juga menjadi narator dialog tokoh-tokoh wayang, dengan diiringi oleh musik
gamelan yang dimainkan sekelompok nayaga dan tembang yang dinyanyikan oleh para
pesinden.
Menurut
penelitian para ahli sejarah kebudayaan, budaya wayang merupakan budaya asli
Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Walaupun cerita wayang yang populer di
masyarakat masa kini merupakan adaptasi dari karya sastra India, yaitu Ramayana
dari Mahabarata. Kedua induk cerita itu dalam pewayangan banyak mengalami
perubahan dan penambahan untuk menyesuaikan dengan falsafah asli Indonesia.
Sementara itu, pendapat kedua menduga wayang berasal dari India, yang dibawa
bersama dengan agama Hindhu ke Indonesia. mereka antara lain adalah Pischel,
Hidding, Krom, Poensen, Goslings, dan Rassers. Sebagian besar kelompok kedua
ini adalah sarjana Inggris, negeri Eropa yang pernah menjajah India.
Penyelenggaraan
wayang kulit semalam suntuk telah digambarkan dalam serat weda purwaka dan
pupuh dhandanggula. Di dalam pupuh dhandanggula dapat disimpulkan bahwa segala
sesuatu yang berhubungan dengan pertunjukan wayang kulit mempunyai
simbol-simbol tersendiri. Dalam dunia pewayangan dalang merupakan unsur
terpenting pada sebuah pementasan, terlepas dari apa pun tema yang akan
dipentaskan. Meski seorang dhalang sudah terlihat memiliki kepandaian dalam
berbagai seni, pengetahuan Jawa, namun ada sebutan (pilihan) tersendiri, yang
menunjukkan kelebihan seorang dhalang, yaitu: Dalang Sejati, Dalang Purba,
Dalang Wasesa, Dalang Guna, Dalang Wikalpa.
Untuk jenis-jenis wayang kulit sendiri yaitu:
1.
Wayang
Purwa, Kata purwa dipakai untuk membedakan wayang jenis ini dengan
wayang kulit lainnya. Wayang purwa diperkirakan mempunyai unsur yang paling tua
diantara wayang kulit lainnya
2.
Wayang
Parwa, Wayang Parwa adalah wayang kulit yang paling populer dan terdapat di
seluruh Bali.
3.
Wayang
Kulit Betawi, Dipastikan bahwa tradisi bentuk pertunjukan wayang kulit betawi
memang berasal dari Jawa. Walaupun kemungkinan besar wayang kulit betawi
berasal dari Mataram, tetapi perkembangannya kemudian dalam kurun waktu puluhan
tahun secara eksistensial sama sekali tidak adanya keterkaitan dengan daerah
asal tradisi bentuk kesenian tersebut.
4.
Wayang
Madya, adalah wayang kulit yang diciptakan oleh Mangkunegara IV sebagai
penyambung cerita wayang purwa dengan wayang gedhog.
5.
Wayang
Gedog, disebut juga wayang panji atau wayang yang memakai cerita dari serat
panji.
6.
Wayang
calonarang juga sering disebut sebagai wayang leyak, adalah salah satu jenis
wayang kulit Bali yang dianggap angker karena dalam pertunjukannya banyak
mengungkapkan nilai-nilai magis dan rahasia pangiwa dan panengen.
7.
Wayang
krucil pertama kali di ciptakan oleh pangeran Pekik dari Surabaya, Wayang ini
terbuat dari bahan kulit berukuran kecil sehingga lebih sering disebut dengan
wayang Krucil.
DAFTAR PUSTAKA
Ismunandar. 1994. Wayang: Asal-Usul dan Jenisnya. Semarang:
Dahara Prize.
Padmosoekotjo. 2005. Silsilah Wayang Kulit Purwa Mawa Cerita.
Surabaya:PT
Citra Jawa Murti.
Rif’an Ali. 2010. Buku Pintar Wayang. Yogyakarta:Gara Ilmu.
Sri Mulyono. 2006. Wayang:Asal-Usul Filsafat dan Masa Depannya.
Surabaya:
Gunung Agung.
Wisnu Dewabrata. 2011. 75 Pemimpin Wayang Kulit Inspiratif. Yogyakarta:Crop
Circle Crop Zon.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar