MAKALAH
Sarana Berfikir Ilmiah,
Bahasa, Matematika, Logika dan Statistika
Makalah ini disusun
guna menyelesaikaan tugas Matakuliah Filsafat Ilmu
Dosen pengampu: Nur Khamid,M. Hum.

Di
susun oleh:
Nanik
Tasdiqoh (23010-15-0291)
Lia
Fathonatul Fajar (23010-15-0279)
Eva Rif’aturrobi’ah (23010-15-0270)
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
INSTUTUT
AGAMA ISLAM NEGERI SALATIGA
2016
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kami haturkan keharibaan Allah SWT yang senantiasa memberikan
rahmat-Nya. Sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “Sarana
Berfikir Ilmiah Bahasa, Matematika, Logika dan Statistika” guna untuk memenuhi
tugas matakuliah Filsafat Ilmu.
Sholawat
dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membimbing
manusia menuju kehidupan yang penuh dengan ridho-Nya. Penyusun makalah ini
dimaksudkan untuk memenuhi tugas dari mata kuliah Filsafat Ilmu. Penyusun
menyadari bahwa makalah ini tidak dapat mungkin terselesaikan dengan baik tanpa
dorongan dari keluarga dan teman-teman sebagai penyemangat dalam
sehari-harinya. Sehingga penyusun mengucapkan banyak terimakasih kepada semua
pihak yang terlibat dalam penyusunan makalah ini.
Dan
pastinya penyusunan makalah ini tidak lepas dari kesalahan dan kekhilafan maka
dari itu penyusun mengucapkan maaf yang sebesar-besarnya. Penyusun hanya dapat
mendoakan kepada Allah SWT agar rahmat dan taufik-Nya senantiasa dilimpahkan
kepada semua pihak yang telah membantu dan menyelesaikan makalah ini. Semoga
Allah SWT mencatat penyusun makalah ini sebagai amal kebaikan yang dapat
bermanfaat bagi semua dan khususnya juga bermanfaat untuk
penyusunnya.
Salatiga,
26 November 2016
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar belakang
Untuk melakukan
kegiatan ilmiah secara baik diperlukan sarana berfikir. Tersedianya sarana
tersebut memungkinkan dilakukannya
penelaahan ilmiah secara teratur dan cermat. Penguasaan sarana berpikir ilmiah
ini merupakan suatu hal yang bersifat imperatif bagi seorang ilmuan. Tanpa
menguasai hal ini maka kegiatan ilmiah yang baik tak dapat dilakukan.
Sarana ilmiah
pada dasarnya merupakan alat yang membantu kegiatan ilmiah dalam berbagai
langkah yang harus ditempuh. Pada langkah tertentu biasanya diperlukan sarana
yang yang tertentu pula. Oleh sebab itulah maka sebelum kita mempelajari
sarana-sarana berfikir ilmiah ini seyogyanya kita telah menguasai langkah-langkah
dalam kegiatan ilmiah tersebut. Dengan jalan ini maka kita akan sampai pada
hakikat sarana yang sebenarnya, sebab sarana merupakan alat yang membantu kita
dalam mencapai suatu tujuan tertentu atau dengan kata lain, sarana ilmiah
mempunyai fungsi-fungsi yang khas dalam kaitannya dengan kegiatan ilmiah secara
menyeluruh.
Mengingat akan
pentingnya hal tersebut, dalam makalah ini penyusun akan membahas lebih dalam
tentang sarana berfikir ilmiah yang berupa bahasa, logika, matematika dan
statistika.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa
pengertian berfikir ilmiah dan berfikir alamiah?
2.
Apa
pengertian sarana berfikir ilmiah?
3.
Bagaimana
bahasa sebagai sarana berfikir ilmiah?
4.
Bagaimana
logika sebagai sarana berfikir ilmiah?
5.
Bagaimana
matematika sebagai sarana berfikir ilmiah?
6.
Bagaimana
statistika sebagai sarana berfikir ilmiah?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Berfikir Ilmiah dan Alamiah
Berfikir ilmiah
adalah berfikir yang logis dan empiris. Logis adalah masuk akal, dan empiris
adalah dibahas secara mendalam berdasarkan fakta yang dapat dipertanggung
jawabkan, selain itu menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan, memutuskan
dan mengembangkan. Berfikir merupakan sebuah proses yang membuahkan
pengetahuan. Proses ini merupakan serangkaian gerak pemikiran dalam mengikuti
jalan pemikiran tertentu yang akhirnya sampai pada sebuah kesimpulan yang
berupa pengetahuan. Berfikir ilmiah adalah kegiatan akal yang menggabungkan
induksi dan deduksi. Induksi adalah cara berfikir yang di dalamnya kesimpulan yang
bersifat umum ditarik dari pernyataan-pernyataan atau kasus-kasus yang bersifat
khusus, sedangkan deduksi ialah cara berfikir yang di dalamnya kesimpulan yang
bersifat khusus ditarik dari pernyataan-pernyataan yang bersifat umum.
Sedangkan
berfikir alamiah adalah pola penalaran yang berdasarkan kebiasaan sehari-hari
dari pengaruh alam sekelilingnya. Misalnya penalaran tentang panasnya api yang
dapat membakar jika kikenakan kayu pasti kayu tersebut akan terbakar.[1]
B.
Sarana Berfikir Ilmiah
Sarana berfikir ilmiah pada dasarnya merupakan alat yang membantu
kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang harus ditempuh. Pada langkah
tertentu biasanya diperlukan sarana yang tertentu pula. Dengan jalan ini maka
kita sampai pada hakikat sarana yang sebenarnya, sebab sarana merupakan alat
yang membantu kita dalam mencapai tujuan tertentu atau dengan perkataan lain,
sarana ilmiah mempunyai fungsi-fungsi khas dalam kaitan kegiatan ilmiah secara
menyeluruh.
Sarana berfikir ilmiah ini, dalam proses pendidikan kita merupakan
bidang studi tersendiri. Artinya kita mempelajari sarana berfikir ilmiah ini
seperti kita mempelajari berbagai cabang ilmu. [2]Dalam
hal ini:
1)
Sarana
ilmiah bukan merupakan ilmu dalam pengertian bahwa sarana ilmiah itu merupakan
kumpulan pengetahuan yang didapatkan berdasarkan metode ilmiah. Seperti
diketahui salah satu karakteristik daroi ilmu, umpamanya adalah penggunaan
berfikir induktif dan deduktif dalam mendapatkan pengetahuan. Sarana berfikir
ilmiah tidak mempergunakan cara ini dalam mendapatkan pengetahuannya. Secara
lebih tuntas dapat dikatakan bahwa sarana berfikir ilmiah mempunyai metode
tersendiri dalam mendapatkan pengetahuannya yang berbeda dengan metode ilmiah.
2)
Tujuan
mempelajari sarana ilmiah adalah untuk memungkinkan kita adalah untuk memumngkinkan
kita melakukan penelaahan ilmiah secara baik, sedangkan tujuan mempelajari ilmi
dimaksudkan untuk bisa memecahkan masalah kita sehari-hari. Dalam hal ini, maka
sarana berfikir ilmiah merupakan alat bagi cabang-cabang pengetahuan untuk
mengembangkan materi pengetahuannya berdasarkan metode ilmiah. Atau secara
sederhana, sarana berfikir ilmiah merupakan alat bagi metode ilmiah dalam
elakukan fungsinya secara baik. Jelaslah sekarang bahwa mengapa sarana berfikir
ilmiah mempunyai metode tersendiri yang berbeda dengan metode ilmiah dalam
mendapatkan pengetahuannya, sebab fungsi sarana ilmiah adalah membantu proses
metode ilmiah dan bukan merupakan ilmu itu sendiri. Untuk dapat melakukan
kegiatan berfikir ilmiah dengan baik maka diperlukan sarana berupa bahasa,
logika, matematika dan statistik.
C.
Bahasa sebagai Sarana Berfikir Ilmiah
Bahasa
merupakan alat komunikasi verbal yang dipakai dalam seluruh proses berfikir
ilmiah, dimana bahasa merupakan alat berfikir dan alat komunikasi untuk
menyampaikan jalan pikiran tersebut kepada orang lain, baik pikiran yang
berlandaskan logika induktif maupun deduktif. Menggunakan bahasa yang baik
dalam berfikir belum tentu mendapatkan kesimpulan yang benar apalagi dengan
bahasa yang tidak baik dan tidak benar.
Bahasa sebagai
sarana komunikasi antar manusia, tanpa bahasa maka tiada komunikasi. Keunikan
manusia sebenarnya bukanlah terletak pada kemampuan berfikirnya melainkan
terletak pada kemampuan berbahasa. Dalam hal ini maka Ernest Cassier menyebut
manusia sebagai manusia Animal symbolic, makhluk yang menggunakan symbol, yang
secara generik mempunyai cakupan yang lebih luas dari Homo Sapiens yakni makhluk
yang berfikir, sebab dalam kegiatan berfikirnya manusia menggunakan simbol.
Bloch dan Trager, senada dengan Joseph Broam menyatakan bahasa adalah suatu
sistem yang berstruktur dari simbol-simbol bunyi arbriter yang dipergunakan
oleh para anggota suatu kelompok sosial sebagai alat bergaul satu sama lain.
Batasan-batasan tentang simbol ini perlu diteliti setiap unsurnya antara lain:[3]
1)
Simbol-simbol:
Sesuatu yang menyatakan sesuatu yang lain.
2)
Simbol-simbol
vokal: Bunyi-bunyi yang urutan-urutan bunyinya dihasilkan dari kerjasama
berbagai organ atau alat tubuh dengan sistem pernapasan.
3)
Simbol-simbol
vokal arbriter: Arbriter atau istilah “mana suka” dan tidak perlu ada hubungan
yang valid secara filosofis antara ucapan lisan dan arti yang dikandungnya
4)
Suatu
sistem yang berstruktur dari simbol-simbol yang arbitrer. Hubungan antara bunyi
dan arti ternyata bebas dari setiap suara hati nurani, logika atau psikologi,
namun kerjasama antara bunyi-bunyi itu sendiri, di dalam bahasa tertentu,
ditandai oleh sejumlah konsisten, ketetapan intern.
Fungsi bahasa, secara umum, antara lain:
1)
Koordinator
kegiatan-kegiatan masyarakat.
2)
Penetapan
pemikiran dan pengugkapan.
3)
Penyampaian
pikiran dan perasaan.
4)
Penyenangan
jiwa.
5)
Pengurangan
goncangan jiwa.
Fungsi bahasa, menurut Halliday yang dikutip Thaimah, antara lain:
1)
Regulatoris
(memerintah dan perbaikan tingkah laku).
2)
Interaksional
(saling mencurahkan perasaan pemikiran antara seseorang).
3)
Personal
(mencurahkan perasaaan dan pikiran).
4)
Heuristic
(mencapai tabir fenomena dan keinginan untuk mempelajarinya).
5)
Imajinatif
(mengungkapkan imajinasi dan gambaran tentang discovery).
6)
Representasional
(menggambarkan wawasan dan pemikiran serta menyampaikan).
D.
Logika sebagai Sarana Berfikir Ilmiah
Logika adalah sarana untuk berfikir sistematis, valid dan dapat
dipertanggungjawabkan. Berfikir logis adalah berfikir sesuai dengan
aturan-aturan perfikir.[4]
Aturan cara berfikir yang benar, antara lain:
1)
Mencintai
kebenaran
Sikap ini sangant
fundamental untuk berfikir yang baik, sebab sikap ini senantiasa menggerakkan
si pemikir untuk mencari, mengusut, meningkatkan mutu berfikir dan
penalarannya. Menggerakkan si pemikir untuk senantiasa mewaspadai ruh-ruh yang
akan menyelewengkannya dari yang benar. Misalnya: menyederhanakan kenyataan,
menyempitkan cakrawala/ perspektif, berfikir terkotak-kotak, memutlakkan titik
berdiri atau suatu profil dan sebagainya.
2)
Ketahuilah
dengan sadar apa yang anda sedang lakukan/ kerjakan.
Kegitan yamg sedang
dikerjakan adalah kegiatan berfikir. Seluruh aktivitas intlek kita adalah suatu
usaha terus menerus mengerjakan kebenaran yang diselingi dengan diperolehnya
pengetahuan tentang kebenaran tetapi bersifat parsial.
3)
Ketahuilah
dengan sadar apa yang sedang anda katakan.
Pikiran diungkapkan
kedalam kata-kata. Kecermatan pikiran terungkap kedalam kecermatan kata-kata,
karenanya kecermatan ungkapan pikiran kedalam kata merupakan suatu yang tidak
boleh ditawar lagi.
4)
Buatlah
distingsi (pembedaan) dan pembagian (klasifikasi) yang semestinya.
Jika ada dua hal yang
tidak memiliki bentuk yang sama, hal itu jelas berbeda, tetapi banyak kejadian
di mana dua hal atau lebih mempunyai bentuk sama, namun tidak identik.
Disinilah perlunya membuat distingsi, suatu perbedaan.
5)
Cintailah
definisi yang tepat.
Penggunaan bahasa
sebagai ungkapan sesuatu kemungkinan tidak ditangkap sebagaimana yang di
ungkapkan atau yang dimaksud. Karenanya jangan segan membuat definisi. Definisi
harus diburu hingga tertangkap. Definisi adalah pembtasan yakni membuat jelas
batas-batas sesuatu.
6)
Ketahuilah
dengan sadar mengapa anda menyimpulkan begini atau begitu.
Ketahuilah mengapa
anda berkata begini atau begitu. Anda harus bisa dan biasa melihat
aumsi-asumsi, implikasi-implikasi, dan konsekuensi-konsekuensi dari suatu
penuturan. Pernyataan atau kesimpulan yang dibuat.[5]
7)
Hindarilah
kesalahan-kesalahan dengan segala usaha dan tenaga, serta sangguplah mengenali
jenis, macam dan nama kesalahan, demikian juga mengenali sebab-sebab kesalahan
pemikiran (penalaran).
E.
Matematika sebagai Sarana Berfikir Ilmiah
1.
Metematika
sebagai bahasa
Matematika adalah
bahasa yang melambangkan serangkaian makna dari pernyataan yang ingin kita
sampaikan. Lambang-lambang matematika bersifat ”artifical” yang baru mempunyai
arti setelah sebuah makana diberikan kepadanya. Tanpa itu matemayika hanya
merupakan kumpulan rumus-rumus yang mati. Alfred North Whitehead mengatakan
bahwa “x itu sama sekali tidak berarti”.
Bahasa verbal mempunyai beberapa
kekurangan, untuk mengatasi kekurangan, untuk mengatasi kekurangan yang
terdapat pada bahasa verbal, kita berpaling kepada matematika. Dalam hal ini,
kita katakan bahwa matematika adalah bahasa yang berusaha untuk menghilangkan
sifat majemuk dan emosional dari bahasa verbal. Bahasa verbal hanya mampu
mengatakan pernyataan yang bersifat kualitatif. Sedangkan sifat kuantitatif
dari matematika merupakan daya prediktif dan control dari ilmu. Ilmu memberikan
jawaban yang lebih bersifat eksak yang memungkinkan pemecahan masalah secara
tepat dan cermat. Contohnya, menghitung kecepatan jalan kaki seseorang anak.
Maka objek “kecepatan jalan kaki seorang anak” kita lambangkan X, “jarak tempuh
seorang anak” kita lambangkan Y, “waktu berjalan kaki seorang anak “kita
lambangkan Z, maka kita dapat melambangkan hubungan tersebut sebagai Z=Y/X.
Pernyataan Z=X/Y kiranya jelas tidak mempunyai konotasi emosional dan hanya
mengemukakan informasi mengenai hubungan antara X,Y dan Z. Dalam hal ini
pernyataan matematika mempunyai sifat yang jelas, spesifik dan informatif
dengan tidak menimbulkan konotasi yang tidak bersifat emosional.
2.
Matematika
sebagai Sarana Befikir Deduktif
Nama ilmu deduktif
diperoleh karena penyelesaian masalah-masalah yang dihadapi tidak didasari atas
pengalaman seperti halnya yang terdapat didalam ilmu-ilmu empirik, melainkan
didasarkan atas deduksi (penjabaran).
Secara deduktif,
matematika menemukan pengetahuan yang baru berdasarkan premis-premis tertentu,
walaupun pengetahuan yang ditemukan ini sebenarnya bukanlah konsekuensi dari
pernyataan-pernyataan ilmiah yang kita telah temukan sebelumnya. Meskipun “tak
pernah ada kejutan dalam logika” (Ludwig Wittgenstein), namun pengetahuan yang
didapatkan secara deduktif sangat berguna dan memberikan kejutan yang sangat
menyenangkan. Dari beberapa premis yang kita telah ketahui, kebenarannya dapat
diketemukan pengetahuan-pengetahuan lainnya yang memperkaya perbendaharaan
ilmiah kita.
F.
Statistika sebagai Sarana Berfikir Ilmiah
Statistika diartikan sebagai
keterangan-keterangan yang dibutuhkan oleh negara dan berguna bagi negara.
Secara etimologi, kata statistik berasal
dari kata “status” (latin) yang punya persamaan arti dengan “state” (bahasa
inggris) dan diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia adalah Negara. Pada mulanya
statistic diartikan sebagai kumpulan bahan keterangan (data), baik yang
berwujud angka (data kuantitatif) saja.[6]
Secara terminologi, dewasa ini istilah
statistik terkandung berbagai macam pengertian:
1.
Statistik
kadang diberi pengertian sebagai data tatistik, yaitu kumpulan bahan keterangan
berupa angka atau bilangan.
2.
Kegiatan
statistik atau kegiatan perstatistikan atau kegiatan penstatistikan.
3.
Metode
statistik yaitu cara-cara tertentu yang perlu ditempuh dalam rangka
mengumpulkan, menyusun atau mengatur, menyajikan menganalisis dan memberikan
intrepretasi terhadap sekumpulan bahan keterangan yang berupa angka itu dapat
berbicara atau dapat memberikan pengertian makna tertentu.
4.
Ilmu
statistik adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari dan memperkembangkan secara
ilmiah tahap-tahap yang ada dalam kegiatan statistik. Adapun metode dan
prosedur yang perlu ditempuh atau dipergunakan dalam rangka:
a.
Pengumpulan
data angka
b.
Penyusunan
atau pengaturan data angka
c.
Penyajian
atau penggambaran atau pelukisan data angka
d.
Penganalisaan
terhadap data angka
e.
Penarikan
kesimpulan (conclusion)
f.
Pembuatan
perkiraan
g.
Penyusunan
ramalan (prediction) secara ilmiah
Dalam kamus
ilmiah popular, kata statistik berarti table, garafik, data informasi,
angka-angka, informasi. Sedangkan kata statistik berarti ilmu pengumpulan,
analisis dan klarifikasi data, angka sebagai dasar untuk induksi. Jadi
statistika merupakan sekumpulan metode untuk membuat keputusan yang bijaksana
dalam keadaan yang tidak menentu.[7]
Peranan
statistika
Statistika bukan
merupakan sekumpulan pengetahuan mengenai objek tertentu melainkan merupakan
sekumpulan metode dalam memperoleh pengetahuan. Metode keilmuan, sejauh apa
yang menyangkut metode, sebenarnya tak lebih dari apa yang dilakukan seseorang
dalam mempergunakan pikiran-pikiran tanpa ada sesuatu pun yang membatasinya.
Penguasaan statistika
mutlak diperlukan untuk dapat berfikir ilmiah dengan sah sering kali dilupakan
orang. Berfikir logis secara deduktif sering sekali dikacaukan dengan berfikir
logis secara induktif. Kekacauan logika inilah yang menyebabkan
kurangberkembangnya ilmu di negara kita. Kita cenderung untuk berfikir logis
cara deduktif dan menerapkan prosedur yang sama untuk kesimpulan induktif.
Untuk mempercepat
perkembangan kegiatan keilmuan di negara kita maka penguasaan berfikir induktif
dengan statistika sebagai alat berfikirnya harus mendapatkan perhatian yang
sungguh-sungguh. Dalam perjalanan sejarah, statistika memang sering mendapat
tempat yang kurang layak. Statistika sebagai disiplin keilmuan sering
dikacaukan dengan statistika yang berupa data yang dikumpulkan.
Statistika merupakan
sarana berfikir yang diperluaskan untuk memproses pengetahuan secara ilmiah.
Sebagai bagiandari perangkat metode ilmiah, maka statistika membantu kita untuk
mengeneralisasikan dan menyimpulkan karakteristik suatu kejadian secara lebih
pasti dan bukan terjadi secara kebetulan.
Statistika harus
mendapat tempat yang sejajar dengan matematika agar keseimbangan berfikir
deduktif dan induktif yang merupakan cara dan berpikir ilmiah dapat dilakukan
dengan baik.[8]
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Berfikir merupakan
ciri utama bagi manusia. Berfikir disebut juga sebagai proses bekerjanya akal.
Secara garis besar berfikir dapat dibedakan antara berfikir alamiah dan
berfikir ilmiah. Berfikir alamiah adalah
pola penalaran yang berdasarkan kehidupan sehari-hari dari pengaruh alam
sekelilingnya. Sedangkan berfikir ilmiah adalah pola penalaran berdasarkan
sarana tertentu.
Secara tertentu dan
cermat. Adapun salah satu pendapat dari para ahli mendefinisikan atau
berpendapat bahwa berfikir ilmiah adalah berfikir logis dan empiris. Logis
masuk akal, empiris dibahas dalam secara mendalam berdasarkan fakta yang dapat
dipertanggung jawabkan. Sarana berfikir ilmiah pada dasarnya ada 4 yaitu:
bahasa sebagai sarana berfikir ilmiah, logika sebagai sarana berfikir ilmiah,
logika sebagai sarana berfikir ilmiah, matematika sbagai sarana berfikir ilmiah
dan statistika sebagai sarana berfikir ilmiah.
Daftar
Pustaka
Bawengan,
G.W. 1997. Sebuah Studi tentang Filsafat.PT.Prada Paramita:Jakarta.
S.Seria
Sumantri,Jujun,2001.Filsafat Ilmu.Pustaka Sinar Harapan:Jakarta.
Bactiar
Amsal.2004. Filsafat Ilmu.PT. Raja Grapindo Persada:Jakarta.
[1] Bawengan, G.W. Sebuah Studi tentang Filsafat.PT.Prada
Paramita:Jakarta. hlm. 165.
[2] S.Seria Sumantri,Jujun,.Filsafat Ilmu.Pustaka Sinar
Harapan:Jakarta. hlm.175.
[3]Bactiar Amsal.2004. Filsafat Ilmu.PT. Raja Grapindo
Persada:Jakarta.hlm. 96.
[4] Bactiar Amsal. Filsafat Ilmu.PT. Raja Grapindo
Persada:Jakarta.hlm. 98.
[5] Bawengan, G.W. Sebuah
Studi tentang Filsafat.PT.Prada Paramita:Jakarta. hlm. 169.
[6]
Bactiar Amsal. Filsafat Ilmu.PT. Raja Grapindo
Persada:Jakarta.hlm. 103.
[7] S.Seria
Sumantri,Jujun,.Filsafat Ilmu.Pustaka Sinar Harapan:Jakarta. hlm.180.
[8]
S.Seria Sumantri,Jujun,.Filsafat Ilmu.Pustaka Sinar
Harapan:Jakarta. hlm. 211.