Rabu, 22 Maret 2017

Sarana Berfikir Ilmiah, Bahasa, Matematika, Logika dan Statistika

MAKALAH
Sarana Berfikir Ilmiah, Bahasa, Matematika, Logika dan Statistika
Makalah ini disusun guna menyelesaikaan tugas Matakuliah Filsafat Ilmu
Dosen  pengampu: Nur Khamid,M. Hum.
Di susun oleh:
                 Nanik Tasdiqoh                    (23010-15-0291)
   Lia Fathonatul Fajar            (23010-15-0279)
   Eva Rif’aturrobi’ah             (23010-15-0270)

FAKULTAS  TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
 PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
INSTUTUT AGAMA ISLAM NEGERI SALATIGA
2016

          KATA PENGANTAR
Puji syukur kami haturkan keharibaan Allah SWT yang senantiasa memberikan rahmat-Nya. Sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “Sarana Berfikir Ilmiah Bahasa, Matematika, Logika dan Statistika” guna untuk memenuhi tugas matakuliah Filsafat Ilmu.
Sholawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membimbing manusia menuju kehidupan yang penuh dengan ridho-Nya. Penyusun makalah ini dimaksudkan untuk memenuhi tugas dari mata kuliah Filsafat Ilmu. Penyusun menyadari bahwa makalah ini tidak dapat mungkin terselesaikan dengan baik tanpa dorongan dari keluarga dan teman-teman sebagai penyemangat dalam sehari-harinya. Sehingga penyusun mengucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak yang terlibat dalam penyusunan makalah ini.
Dan pastinya penyusunan makalah ini tidak lepas dari kesalahan dan kekhilafan maka dari itu penyusun mengucapkan maaf yang sebesar-besarnya. Penyusun hanya dapat mendoakan kepada Allah SWT agar rahmat dan taufik-Nya senantiasa dilimpahkan kepada semua pihak yang telah membantu dan menyelesaikan makalah ini. Semoga Allah SWT mencatat penyusun makalah ini sebagai amal kebaikan yang dapat bermanfaat bagi   semua dan khususnya juga bermanfaat untuk penyusunnya.


Salatiga, 26 November 2016  



                                                                            Penyusun




BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar belakang
Untuk melakukan kegiatan ilmiah secara baik diperlukan sarana berfikir. Tersedianya sarana tersebut memungkinkan  dilakukannya penelaahan ilmiah secara teratur dan cermat. Penguasaan sarana berpikir ilmiah ini merupakan suatu hal yang bersifat imperatif bagi seorang ilmuan. Tanpa menguasai hal ini maka kegiatan ilmiah yang baik tak dapat dilakukan.
Sarana ilmiah pada dasarnya merupakan alat yang membantu kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang harus ditempuh. Pada langkah tertentu biasanya diperlukan sarana yang yang tertentu pula. Oleh sebab itulah maka sebelum kita mempelajari sarana-sarana berfikir ilmiah ini seyogyanya kita telah menguasai langkah-langkah dalam kegiatan ilmiah tersebut. Dengan jalan ini maka kita akan sampai pada hakikat sarana yang sebenarnya, sebab sarana merupakan alat yang membantu kita dalam mencapai suatu tujuan tertentu atau dengan kata lain, sarana ilmiah mempunyai fungsi-fungsi yang khas dalam kaitannya dengan kegiatan ilmiah secara menyeluruh.
Mengingat akan pentingnya hal tersebut, dalam makalah ini penyusun akan membahas lebih dalam tentang sarana berfikir ilmiah yang berupa bahasa, logika, matematika dan statistika.
B.       Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian berfikir ilmiah dan berfikir alamiah?
2.      Apa pengertian sarana berfikir ilmiah?
3.      Bagaimana bahasa sebagai sarana berfikir ilmiah?
4.      Bagaimana logika sebagai sarana berfikir ilmiah?
5.      Bagaimana matematika sebagai sarana berfikir ilmiah?
6.      Bagaimana statistika sebagai sarana berfikir ilmiah?

BAB II
PEMBAHASAN
A.      Pengertian Berfikir Ilmiah dan Alamiah
Berfikir ilmiah adalah berfikir yang logis dan empiris. Logis adalah masuk akal, dan empiris adalah dibahas secara mendalam berdasarkan fakta yang dapat dipertanggung jawabkan, selain itu menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan, memutuskan dan mengembangkan. Berfikir merupakan sebuah proses yang membuahkan pengetahuan. Proses ini merupakan serangkaian gerak pemikiran dalam mengikuti jalan pemikiran tertentu yang akhirnya sampai pada sebuah kesimpulan yang berupa pengetahuan. Berfikir ilmiah adalah kegiatan akal yang menggabungkan induksi dan deduksi. Induksi adalah cara berfikir yang di dalamnya kesimpulan yang bersifat umum ditarik dari pernyataan-pernyataan atau kasus-kasus yang bersifat khusus, sedangkan deduksi ialah cara berfikir yang di dalamnya kesimpulan yang bersifat khusus ditarik dari pernyataan-pernyataan yang bersifat umum.
Sedangkan berfikir alamiah adalah pola penalaran yang berdasarkan kebiasaan sehari-hari dari pengaruh alam sekelilingnya. Misalnya penalaran tentang panasnya api yang dapat membakar jika kikenakan kayu pasti kayu tersebut akan terbakar.[1]
B.       Sarana Berfikir Ilmiah
Sarana berfikir ilmiah pada dasarnya merupakan alat yang membantu kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang harus ditempuh. Pada langkah tertentu biasanya diperlukan sarana yang tertentu pula. Dengan jalan ini maka kita sampai pada hakikat sarana yang sebenarnya, sebab sarana merupakan alat yang membantu kita dalam mencapai tujuan tertentu atau dengan perkataan lain, sarana ilmiah mempunyai fungsi-fungsi khas dalam kaitan kegiatan ilmiah secara menyeluruh.
Sarana berfikir ilmiah ini, dalam proses pendidikan kita merupakan bidang studi tersendiri. Artinya kita mempelajari sarana berfikir ilmiah ini seperti kita mempelajari berbagai cabang ilmu. [2]Dalam hal ini:
1)      Sarana ilmiah bukan merupakan ilmu dalam pengertian bahwa sarana ilmiah itu merupakan kumpulan pengetahuan yang didapatkan berdasarkan metode ilmiah. Seperti diketahui salah satu karakteristik daroi ilmu, umpamanya adalah penggunaan berfikir induktif dan deduktif dalam mendapatkan pengetahuan. Sarana berfikir ilmiah tidak mempergunakan cara ini dalam mendapatkan pengetahuannya. Secara lebih tuntas dapat dikatakan bahwa sarana berfikir ilmiah mempunyai metode tersendiri dalam mendapatkan pengetahuannya yang berbeda dengan metode ilmiah.
2)      Tujuan mempelajari sarana ilmiah adalah untuk memungkinkan kita adalah untuk memumngkinkan kita melakukan penelaahan ilmiah secara baik, sedangkan tujuan mempelajari ilmi dimaksudkan untuk bisa memecahkan masalah kita sehari-hari. Dalam hal ini, maka sarana berfikir ilmiah merupakan alat bagi cabang-cabang pengetahuan untuk mengembangkan materi pengetahuannya berdasarkan metode ilmiah. Atau secara sederhana, sarana berfikir ilmiah merupakan alat bagi metode ilmiah dalam elakukan fungsinya secara baik. Jelaslah sekarang bahwa mengapa sarana berfikir ilmiah mempunyai metode tersendiri yang berbeda dengan metode ilmiah dalam mendapatkan pengetahuannya, sebab fungsi sarana ilmiah adalah membantu proses metode ilmiah dan bukan merupakan ilmu itu sendiri. Untuk dapat melakukan kegiatan berfikir ilmiah dengan baik maka diperlukan sarana berupa bahasa, logika, matematika dan statistik.
C.      Bahasa sebagai Sarana Berfikir Ilmiah
Bahasa merupakan alat komunikasi verbal yang dipakai dalam seluruh proses berfikir ilmiah, dimana bahasa merupakan alat berfikir dan alat komunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran tersebut kepada orang lain, baik pikiran yang berlandaskan logika induktif maupun deduktif. Menggunakan bahasa yang baik dalam berfikir belum tentu mendapatkan kesimpulan yang benar apalagi dengan bahasa yang tidak baik dan tidak benar.
Bahasa sebagai sarana komunikasi antar manusia, tanpa bahasa maka tiada komunikasi. Keunikan manusia sebenarnya bukanlah terletak pada kemampuan berfikirnya melainkan terletak pada kemampuan berbahasa. Dalam hal ini maka Ernest Cassier menyebut manusia sebagai manusia Animal symbolic, makhluk yang menggunakan symbol, yang secara generik mempunyai cakupan yang lebih luas dari Homo Sapiens yakni makhluk yang berfikir, sebab dalam kegiatan berfikirnya manusia menggunakan simbol. Bloch dan Trager, senada dengan Joseph Broam menyatakan bahasa adalah suatu sistem yang berstruktur dari simbol-simbol bunyi arbriter yang dipergunakan oleh para anggota suatu kelompok sosial sebagai alat bergaul satu sama lain. Batasan-batasan tentang simbol ini perlu diteliti setiap unsurnya antara lain:[3]
1)      Simbol-simbol: Sesuatu yang menyatakan sesuatu yang lain.
2)      Simbol-simbol vokal: Bunyi-bunyi yang urutan-urutan bunyinya dihasilkan dari kerjasama berbagai organ atau alat tubuh dengan sistem pernapasan.
3)      Simbol-simbol vokal arbriter: Arbriter atau istilah “mana suka” dan tidak perlu ada hubungan yang valid secara filosofis antara ucapan lisan dan arti yang dikandungnya
4)      Suatu sistem yang berstruktur dari simbol-simbol yang arbitrer. Hubungan antara bunyi dan arti ternyata bebas dari setiap suara hati nurani, logika atau psikologi, namun kerjasama antara bunyi-bunyi itu sendiri, di dalam bahasa tertentu, ditandai oleh sejumlah konsisten, ketetapan intern.
Fungsi bahasa, secara umum, antara lain:
1)      Koordinator kegiatan-kegiatan masyarakat.
2)      Penetapan pemikiran dan pengugkapan.
3)      Penyampaian pikiran dan perasaan.
4)      Penyenangan jiwa.
5)      Pengurangan goncangan jiwa.
Fungsi bahasa, menurut Halliday yang dikutip Thaimah, antara lain:
1)      Regulatoris (memerintah dan perbaikan tingkah laku).
2)      Interaksional (saling mencurahkan perasaan pemikiran antara seseorang).
3)      Personal (mencurahkan perasaaan dan pikiran).
4)      Heuristic (mencapai tabir fenomena dan keinginan untuk mempelajarinya).
5)      Imajinatif (mengungkapkan imajinasi dan gambaran tentang discovery).
6)      Representasional (menggambarkan wawasan dan pemikiran serta menyampaikan).

D.      Logika sebagai Sarana Berfikir Ilmiah
Logika adalah sarana untuk berfikir sistematis, valid dan dapat dipertanggungjawabkan. Berfikir logis adalah berfikir sesuai dengan aturan-aturan perfikir.[4]
Aturan cara berfikir yang benar, antara lain:
1)      Mencintai kebenaran
       Sikap ini sangant fundamental untuk berfikir yang baik, sebab sikap ini senantiasa menggerakkan si pemikir untuk mencari, mengusut, meningkatkan mutu berfikir dan penalarannya. Menggerakkan si pemikir untuk senantiasa mewaspadai ruh-ruh yang akan menyelewengkannya dari yang benar. Misalnya: menyederhanakan kenyataan, menyempitkan cakrawala/ perspektif, berfikir terkotak-kotak, memutlakkan titik berdiri atau suatu profil dan sebagainya.
2)      Ketahuilah dengan sadar apa yang anda sedang lakukan/ kerjakan.
       Kegitan yamg sedang dikerjakan adalah kegiatan berfikir. Seluruh aktivitas intlek kita adalah suatu usaha terus menerus mengerjakan kebenaran yang diselingi dengan diperolehnya pengetahuan tentang kebenaran tetapi bersifat parsial.
3)      Ketahuilah dengan sadar apa yang sedang anda katakan.
       Pikiran diungkapkan kedalam kata-kata. Kecermatan pikiran terungkap kedalam kecermatan kata-kata, karenanya kecermatan ungkapan pikiran kedalam kata merupakan suatu yang tidak boleh ditawar lagi.
4)      Buatlah distingsi (pembedaan) dan pembagian (klasifikasi) yang semestinya.
       Jika ada dua hal yang tidak memiliki bentuk yang sama, hal itu jelas berbeda, tetapi banyak kejadian di mana dua hal atau lebih mempunyai bentuk sama, namun tidak identik. Disinilah perlunya membuat distingsi, suatu perbedaan.
5)      Cintailah definisi yang tepat.
       Penggunaan bahasa sebagai ungkapan sesuatu kemungkinan tidak ditangkap sebagaimana yang di ungkapkan atau yang dimaksud. Karenanya jangan segan membuat definisi. Definisi harus diburu hingga tertangkap. Definisi adalah pembtasan yakni membuat jelas batas-batas sesuatu.
6)      Ketahuilah dengan sadar mengapa anda menyimpulkan begini atau begitu.
       Ketahuilah mengapa anda berkata begini atau begitu. Anda harus bisa dan biasa melihat aumsi-asumsi, implikasi-implikasi, dan konsekuensi-konsekuensi dari suatu penuturan. Pernyataan atau kesimpulan yang dibuat.[5]
7)      Hindarilah kesalahan-kesalahan dengan segala usaha dan tenaga, serta sangguplah mengenali jenis, macam dan nama kesalahan, demikian juga mengenali sebab-sebab kesalahan pemikiran (penalaran).
E.       Matematika sebagai Sarana Berfikir Ilmiah
1.      Metematika sebagai bahasa
       Matematika adalah bahasa yang melambangkan serangkaian makna dari pernyataan yang ingin kita sampaikan. Lambang-lambang matematika bersifat ”artifical” yang baru mempunyai arti setelah sebuah makana diberikan kepadanya. Tanpa itu matemayika hanya merupakan kumpulan rumus-rumus yang mati. Alfred North Whitehead mengatakan bahwa “x itu sama sekali tidak berarti”.
                   Bahasa verbal mempunyai beberapa kekurangan, untuk mengatasi kekurangan, untuk mengatasi kekurangan yang terdapat pada bahasa verbal, kita berpaling kepada matematika. Dalam hal ini, kita katakan bahwa matematika adalah bahasa yang berusaha untuk menghilangkan sifat majemuk dan emosional dari bahasa verbal. Bahasa verbal hanya mampu mengatakan pernyataan yang bersifat kualitatif. Sedangkan sifat kuantitatif dari matematika merupakan daya prediktif dan control dari ilmu. Ilmu memberikan jawaban yang lebih bersifat eksak yang memungkinkan pemecahan masalah secara tepat dan cermat. Contohnya, menghitung kecepatan jalan kaki seseorang anak. Maka objek “kecepatan jalan kaki seorang anak” kita lambangkan X, “jarak tempuh seorang anak” kita lambangkan Y, “waktu berjalan kaki seorang anak “kita lambangkan Z, maka kita dapat melambangkan hubungan tersebut sebagai Z=Y/X. Pernyataan Z=X/Y kiranya jelas tidak mempunyai konotasi emosional dan hanya mengemukakan informasi mengenai hubungan antara X,Y dan Z. Dalam hal ini pernyataan matematika mempunyai sifat yang jelas, spesifik dan informatif dengan tidak menimbulkan konotasi yang tidak bersifat emosional.
2.      Matematika sebagai Sarana Befikir Deduktif
       Nama ilmu deduktif diperoleh karena penyelesaian masalah-masalah yang dihadapi tidak didasari atas pengalaman seperti halnya yang terdapat didalam ilmu-ilmu empirik, melainkan didasarkan atas deduksi (penjabaran).
       Secara deduktif, matematika menemukan pengetahuan yang baru berdasarkan premis-premis tertentu, walaupun pengetahuan yang ditemukan ini sebenarnya bukanlah konsekuensi dari pernyataan-pernyataan ilmiah yang kita telah temukan sebelumnya. Meskipun “tak pernah ada kejutan dalam logika” (Ludwig Wittgenstein), namun pengetahuan yang didapatkan secara deduktif sangat berguna dan memberikan kejutan yang sangat menyenangkan. Dari beberapa premis yang kita telah ketahui, kebenarannya dapat diketemukan pengetahuan-pengetahuan lainnya yang memperkaya perbendaharaan ilmiah kita.
F.       Statistika sebagai Sarana Berfikir Ilmiah
       Statistika diartikan sebagai keterangan-keterangan yang dibutuhkan oleh negara dan berguna bagi negara.
       Secara etimologi, kata statistik berasal dari kata “status” (latin) yang punya persamaan arti dengan “state” (bahasa inggris) dan diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia adalah Negara. Pada mulanya statistic diartikan sebagai kumpulan bahan keterangan (data), baik yang berwujud angka  (data kuantitatif) saja.[6]
       Secara terminologi, dewasa ini istilah statistik terkandung berbagai macam pengertian:
1.      Statistik kadang diberi pengertian sebagai data tatistik, yaitu kumpulan bahan keterangan berupa angka atau bilangan.
2.      Kegiatan statistik atau kegiatan perstatistikan atau kegiatan penstatistikan.
3.      Metode statistik yaitu cara-cara tertentu yang perlu ditempuh dalam rangka mengumpulkan, menyusun atau mengatur, menyajikan menganalisis dan memberikan intrepretasi terhadap sekumpulan bahan keterangan yang berupa angka itu dapat berbicara atau dapat memberikan pengertian makna tertentu.
4.      Ilmu statistik adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari dan memperkembangkan secara ilmiah tahap-tahap yang ada dalam kegiatan statistik. Adapun metode dan prosedur yang perlu ditempuh atau dipergunakan dalam rangka:
a.       Pengumpulan data angka
b.      Penyusunan atau pengaturan data angka
c.       Penyajian atau penggambaran atau pelukisan data angka
d.      Penganalisaan terhadap data angka
e.       Penarikan kesimpulan (conclusion)
f.       Pembuatan perkiraan
g.      Penyusunan ramalan (prediction) secara ilmiah
Dalam kamus ilmiah popular, kata statistik berarti table, garafik, data informasi, angka-angka, informasi. Sedangkan kata statistik berarti ilmu pengumpulan, analisis dan klarifikasi data, angka sebagai dasar untuk induksi. Jadi statistika merupakan sekumpulan metode untuk membuat keputusan yang bijaksana dalam keadaan yang tidak menentu.[7]
            Peranan statistika
       Statistika bukan merupakan sekumpulan pengetahuan mengenai objek tertentu melainkan merupakan sekumpulan metode dalam memperoleh pengetahuan. Metode keilmuan, sejauh apa yang menyangkut metode, sebenarnya tak lebih dari apa yang dilakukan seseorang dalam mempergunakan pikiran-pikiran tanpa ada sesuatu pun yang membatasinya.
       Penguasaan statistika mutlak diperlukan untuk dapat berfikir ilmiah dengan sah sering kali dilupakan orang. Berfikir logis secara deduktif sering sekali dikacaukan dengan berfikir logis secara induktif. Kekacauan logika inilah yang menyebabkan kurangberkembangnya ilmu di negara kita. Kita cenderung untuk berfikir logis cara deduktif dan menerapkan prosedur yang sama untuk kesimpulan induktif.
       Untuk mempercepat perkembangan kegiatan keilmuan di negara kita maka penguasaan berfikir induktif dengan statistika sebagai alat berfikirnya harus mendapatkan perhatian yang sungguh-sungguh. Dalam perjalanan sejarah, statistika memang sering mendapat tempat yang kurang layak. Statistika sebagai disiplin keilmuan sering dikacaukan dengan statistika yang berupa data yang dikumpulkan.
       Statistika merupakan sarana berfikir yang diperluaskan untuk memproses pengetahuan secara ilmiah. Sebagai bagiandari perangkat metode ilmiah, maka statistika membantu kita untuk mengeneralisasikan dan menyimpulkan karakteristik suatu kejadian secara lebih pasti dan bukan terjadi secara kebetulan.
       Statistika harus mendapat tempat yang sejajar dengan matematika agar keseimbangan berfikir deduktif dan induktif yang merupakan cara dan berpikir ilmiah dapat dilakukan dengan baik.[8]






BAB III
PENUTUP
A.      Kesimpulan
       Berfikir merupakan ciri utama bagi manusia. Berfikir disebut juga sebagai proses bekerjanya akal. Secara garis besar berfikir dapat dibedakan antara berfikir alamiah dan berfikir  ilmiah. Berfikir alamiah adalah pola penalaran yang berdasarkan kehidupan sehari-hari dari pengaruh alam sekelilingnya. Sedangkan berfikir ilmiah adalah pola penalaran berdasarkan sarana tertentu.
       Secara tertentu dan cermat. Adapun salah satu pendapat dari para ahli mendefinisikan atau berpendapat bahwa berfikir ilmiah adalah berfikir logis dan empiris. Logis masuk akal, empiris dibahas dalam secara mendalam berdasarkan fakta yang dapat dipertanggung jawabkan. Sarana berfikir ilmiah pada dasarnya ada 4 yaitu: bahasa sebagai sarana berfikir ilmiah, logika sebagai sarana berfikir ilmiah, logika sebagai sarana berfikir ilmiah, matematika sbagai sarana berfikir ilmiah dan statistika sebagai sarana berfikir ilmiah.





           



Daftar Pustaka
Bawengan, G.W. 1997. Sebuah Studi tentang Filsafat.PT.Prada Paramita:Jakarta.
S.Seria Sumantri,Jujun,2001.Filsafat Ilmu.Pustaka Sinar Harapan:Jakarta.
Bactiar Amsal.2004. Filsafat Ilmu.PT. Raja Grapindo Persada:Jakarta.


[1] Bawengan, G.W. Sebuah Studi tentang Filsafat.PT.Prada Paramita:Jakarta. hlm. 165.
[2] S.Seria Sumantri,Jujun,.Filsafat Ilmu.Pustaka Sinar Harapan:Jakarta. hlm.175.

[3]Bactiar Amsal.2004. Filsafat Ilmu.PT. Raja Grapindo Persada:Jakarta.hlm. 96.

[4] Bactiar Amsal. Filsafat Ilmu.PT. Raja Grapindo Persada:Jakarta.hlm. 98.

[5]  Bawengan, G.W. Sebuah Studi tentang Filsafat.PT.Prada Paramita:Jakarta. hlm. 169.
[6] Bactiar Amsal. Filsafat Ilmu.PT. Raja Grapindo Persada:Jakarta.hlm. 103.
[7]  S.Seria Sumantri,Jujun,.Filsafat Ilmu.Pustaka Sinar Harapan:Jakarta. hlm.180.

[8] S.Seria Sumantri,Jujun,.Filsafat Ilmu.Pustaka Sinar Harapan:Jakarta. hlm. 211.